Tampilkan postingan dengan label taujihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taujihat. Tampilkan semua postingan

Februari 26, 2012

Hujan itu ArIR

Banyak yang mengeluh tentang hujan. Saat musim kemarau, mereka mengeluh akan hujan yang tak pernah menyapa. Dan saat musim penghujan, mereka mengeluh karena hujan tak henti-hentinya mencumbu bumi. Lalu, pada musim lainnya? oh, cukup....karena negeri kami negeri tropis jadi cukuplah kami puas dengan dua musim itu saja.

mendung di langit membersamai sejak siang
Hujan itu Anugrah. Ia turun ke bumi sebagai bentuk hadiah karena sang bumi senantiasa sabar menanggung sengatan sang surya. Walau senantiasa dikeluhkan, tak ayal masyarakat bumi pun menanti kedatangannya dengan suka cita. Aku pun demikian. Tidak kulupakan senangnya hati saat hujan mendera dan kami menari menyambutnya. Yah, mandi hujan. Sangat menyenangkan. Sebuah kenangan masa kecil yang sering kurindukan. Maka, hujan itu adalah anugrah.
Hujan itu adalah rIzki. Dengannya bibit bertumbuh, hutan menghijau, air mengalir deras, dan udara tak selamanya terasa panas. Karena rizki tak selamanya seperti itu adanya, karena rizki harus senantiasa diusahakan. Maka, hujan adalah rizki, yang mengajarkan kita tentang hidup itu sebagiannya doa dan sebagian yang lainnya ikhtiar. Maka, hujan adalah rizki.

halaman yang basah terguyur hujan....
Hujan adalah Rahmat. Dengannya Allah menunjukkan kasihNya pada bumi dan seisinya tanpa adanya pilih kasih. Dengannya Allah menunjukkan kuasaNya terhadap bumi dan seisinya. Dengannya Allah memuliakan waktu turunnya sebagai salah satu waktu terijabahnya doa. Maka, hujan adalah rahmat.
Lalu, mengapa kita yang lemah ini masih sering mengeluh dan bahkan menghujat hujan yang datang saat tak sesuai dengan kehendak hati? Bukankah Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi makhlukNya? Bukankah hujan adalah Anugrah, rIzki dan Rahmat yang harusnya kita syukuri? Bukankah waktu turunnya begitu mulia sehingga merupakan salah satu waktu ijabah doa? Maka, daripada memperbanyak keluh kenapa tidak kita menggantinya dengan memperbanyak doa dan kebaikan. ^_____^

Februari 08, 2012

Belajar dari Burung Hud-hud

Kita mungkin sudah tidak asing dengan burung hud-hud. Burung ini adalah salah satu burung yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang terdapat dalam kisah nabi Sulaiman as. Di dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang burung hud-hud yang melakukan pengintaian terhadap suatu kaum yang kemudian hasil pengintaian ini ia sampaikan kepada nabi Sulaiman as. selaku pemimpinnya. Berdasarkan kabar yang disampaikan oleh si burung, maka dakwah terhadap kaum tersebut dapat dilakukan. Allah berfirman:
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia dating kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (An-Naml 20-23)
Inti cerita tentang keterlambatan burung hud-hud tersebut di atas adalah:
Keterlambatan burung hud-hud dalam pertemuan tersebut dikarenakan kerja dakwah yang dilakukannya tanpa adanya perintah dari sang nabi (mengintai negeri Saba’ red.) yang kemudian hasil pengintaian itu menjadi perantara suatu kaum mendapat hidayah Allah. Akan tetapi tindakan yang dilakukan burung hud-hud tidak dapat dijadikan alasan bekerja di luar kendali (tasayyub). Tindakan yang dilakukan burung hud-hud karena ia mengetahui kondisi yang merupakan peluang dakwah.
Burung hud-hud tidak keluar dari tujuan jama’ah dan sarananya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama. Kisah ini menunjukkan pada diri burung hud-hud terdapat jiwa yang sadar misi (yaqzhah), teliti dalam beramal (diqqah) dan semangat untuk berdakwah. Selain pelajaran mengenai sikap seorang jundi dakwah, kisah ini juga menggambarkan sikap yang dimiliki nabi Sulaiman selaku pemimpin (qiyadah) yang memiliki sikap kontrol dan ketegasan dalam menyelesaikan persoalan anggotanya sekecil apapun persoalan tersebut dan dilakukan oleh anggota serendah apapun jenjangnya.
Kisah ini banyak mengandung ibrah untuk para aktivis dakwah apapun posisinya, di antaranya:
1. Inisiatif, seorang aktivis dakwah hendaklah memiliki inisiatif tanpa adanya perintah dalam menjalankan tugas dakwah. Ia memanfaatkan keberadaan dirinya di suatu tempat sebagai peluang untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang lain (dakwah red.)
2. Tidak semua rencana/planning akan berjalan dengan lancar dan dapat dimutaba’ahi, karena itu pengarahan terhadap semua perintah dan kebijakan adalah lebih diutamakan.
3. Adanya pengecekan terhadap keterlambatan burung hud-hud berikut dengan alasannya. Dan pemimpin pun menerima alasan tersebut setelah dilakukan pengecekan, dan membatalkan hukuman yang telah dijanjikan karena alasan yang dikemukakan bernilai kebenaran.
4. I’tidzar lil qa’id fi ada’il wajib. Dalam kisah ini kita dapat melihat bahwa dalam pemaafan (ma’dzirah) dan menyampaikan alasan (i’tidzar) terdapat sesuatu yang berharga ketika pengetahuan burung hud-hud memberikan manfaat kepada pemimpin. Kemampuan dalam menyampaikan berita yang penting dan besar dan taat kepada pemimpin dengan mennjawab alasan keterlambatan dengan hal yang lebih penting.
5. Pentingnya kehadiran secara da’wiyan dan tarbawiyan, bukan hanya kehadiran di halaqah atau di usrah atau di ijtima’. Hendaknya kita senantiasa hadir dalam setiap aktivitas dakwah dan tarbiyah. Maka, di sinilah peran seorang qiyadah/pemimpin/murabbi/mas’ul dalam mengontrol dan memperhatikan kehadiran binaannya dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah.
6. Hendaknya pemimpin tidak cuek. Dalam kisah ini nabi Sulaiman selaku pemimpin bersikap:
a. Merasa kehilangan terhadap pengikutnya (tafaqqudul amiir lil atba’).
Adanya perhatian terhadap kehadiran orang-orang yang dipimpinnya merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diemban. Sikap ini juga dapat membangkitkan perasaan dibutuhkan dari seorang jundi oleh pemimpinnya, sehingga dapat membangkitkan semangat mereka.
b. Sangat perhatian terhadap perkara (akhdzul amri bil hazm). 
Seorang pemimpin harus memiliki wibawa di hadapan pengikutnya dengan bersikap tegas, bahkan dalam perkara yang kecil sekalipun.
c. Evaluasi (muhasabah). 
Hendaklah seorang pemimpin memiliki inisiatif untuk mengevaluasi proses tarbiyah dan hasil perjalanan tarbiyah yang telah ia lakukan.
d. Klarifikasi uzur (tabayyunul ‘udzr). 
Klarifikasi alasan keuzuran binaan dilakukan agar penyikapan dan perlakuan yang akan diambil lebih berdampak positif.
e. Menghargai masing-masing anggota (taqdir kulli udhwin). 
Seorang anggota, betapapun kondisinya harus dihargai sebagai anggota dan tidak boleh dipandang sebelah mata.
7. Kerja yang kecil juga dapat melahirkan hal yang besar. Seperti halnya kerja pengintaian burung hud-hud yang hanya sekedar menghasilkan informasi keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar yakni keislaman seluruh negeri Saba’.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah si burung hud-hud di dalam Al-Qur’an dalam bekerja dan berkontribusi di aktivitas dakwiyah dan tarbawiyah.


(Materi Kajian KTP UGM)

Februari 15, 2011

Rencana Allah Pasti Indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahunya bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang yang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, 
"Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini. Nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil,
"Anakku, mari ke sini dan duduklah di pangkuan ibu."
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit. Sungguh indah sekali. Aku hampir tak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata,
"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah,
"Ya Allah, apa yang Engkau lakukan?"
Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu."
Dan aku membantah, 
"Tetapi, nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam. Mengapa semuanya tidak memakai warna yang cerah?"
Kemudian Allah menjawab, 
"Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkanmu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."

(sebuah taujih singkat nan indah dari ukhti Dyah Purnamasari >> Jogja, 12 Februari 2011)

Oktober 22, 2010

Salamatush Shadr (LAPANG DADA)


               Kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak delapan kali dalam  Al-Quran. Kata ini pada mulanya berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada. Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.
          Apabila kamu memaafkan,dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (at-Thaghabun: 14).
          Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (an-Nur: 22) .
          Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (al-Maidah: l3).
          Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah:109).
               Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani  menyatakan bahwa  al-shafh lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan ini dapat dipahami dengan sebuah analogi. Seperti dikemukakan terdahulu dari kata  al-shafh lahirlah shafhat yang berarti halaman.  Jika kita memiliki selembar kertas yang ditulisi suatu kesalahan dan kesalahan itu ditulis dengan pensil, maka kita akan menngunakan penghapus karet untuk menghapusnya. Demikianlah halnya ketika Anda melakukan 'afw (memberi maaf).  Seandainya kesalahan itu ditulis dengan tinta, tentu kita akan menghapusnya dengan tip-ex agar tidak terlihat lagi. Akan tetapi, walaupun kita telah berusaha menghapus kesalahan tersebut, tentunya lembaran tersebut tidak lagi sama sepenuhnya dengan lembaran baru bahkan lembaran itu mungkin menjadi lebih lusuh dari sebelumnya. Di sinilah letak perbedaan antara al-shafh yang mengandung arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut seseorang untuk membuka lembaran baru sehingga sedikit pun hubungan tidak ternodai, tidak kusut, dan tidak seperti lembaran yang telah dihapus kesalahannya. Mushafahat (jabat tangan) adalah lambang kesediaan seseorang untuk membuka lembaran baru, dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama. Sebab, walaupun kesalahan telah dihapus, terkadang masih saja ada kekusutan masalah.  
               Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena tidak mungkin membuka lembaran baru dengan membiarkan lembar yang telah ada  kesalahannya  tanpa  terhapus.  Itu sebabnya ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi tidak didahului oleh perintah memberi maaf, dirangkaikan dengan jamil yang berarti indah. Selain itu, al-shafh juga dirangkaikan dengan perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak.
          Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik (al-Hijr:85)
          Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan salam/kedamaian (az-Zukhruf:84).
Lapang dada dalam Amal Jama’i
               Salamatush shadr adalah kita dapat berlapang dada menerima kesalahan maupun suatu hal yang tidak kita setujui. Oleh karena itu, sikap ini saat diperlukan dalam aktivitas beramal jama’i karena tidak menutup kemungkinan adanya keputusan yang tidak kita sukai tapi merupakan keputusan bersama (jama’ah). Akan tetapi, dalam hal ini tidak cukup sampai dengan berlapang dada dalam menerima keputusan. Kita juga harus bisa berlapang dada dalam menjalankan keputusan tersebut demi terlaksananya kerja-kerja jama’ah dan tercapainya tujuan bersama.
               Jika salamatush shadr memiliki tingkatan lebih tinggi dari memaafkan, maka setelahnya masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi yakni “Itsar”. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai.

Wahai orang yang berfikir tentang ketentraman dan kedamaian bumi ini....
Pahamilah masalah ini dengan cermat...
Kembalilah kepada Islam...
Ya Allah, saksikanlah...
Sesungguhnya aku telah menyampaikan... (Hasan Al-Banna)

Maraji’
Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Qur’an.
Catatan pribadi

Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal “Kerusakan dan Penderitaan Umat Manusia Saat Ini”


Air adalah materi(benda) yang jika ia bergerak dan terus mengalir, maka ia menjadi air yang sangat bermanfaat dan segar. Sedangkan jika ia ditempatkan dalam suatu wadah, dibendung dan tidak bergerak, maka lama-kelamaan air tersebut akan menjadi air yang tidak sehat dan berbau (busuk). Manusia pun bagaikan air yang memiliki dua pilihan dalam hidup, yakni diam atau bergerak. Diam tanpa melakukan aktivitas apapun dan menjadi manusia yang tidak berdaya guna. Atau bergerak, dan memperbanyak manfaat diri untuk yang lain. Pilihan bergerak ini pun selanjutnya memiliki dua opsi, apakah bergerak di jalan benar yang diridhoi oleh Allah ataukah bergerak di jalan yang sesat. Semua itu adalah pilihan yang harus kita ambil dan jalani. Dan sesungguhnya, memilih untuk diam akan membawa manusia ke kebinasaan. Sedangkan memilih untuk bergerak, dan jalan yang ditempuh adalah jalan yang tidak diridhoi Allah, maka pilihan ini pun memiliki resiko yang sama. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
ﻭﺍﻥﺗﺘﻮﻟﻮﺍﻳﺴﺘﺒﺪﻝﻗﻮﻣﺎﻏﻴﺮﻛﻢﺛﻢﻻﻳﻜﻮﻧﻮﺍﺃﻣﺜﺎﻟﻜﻢ ….
”....Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu ”(Muhammad: 38)

Sekarang ini umat manusia tengah dilanda berbagai kerusakan dan berada dalam kondisi yang kacau. Kondisi sekarang ini sama dengan kondisi umat manusia pada zaman Rasulullah SAW. Akan tetapi, bedanya adalah di zaman ini sudah tidak ada lagi Rasul yang akan mengemban tugas untuk memperbaiki umat manusia. Jadi, menjadi tugas kitalah sebagai penyambung lidah para anbiya’. Tugas ini bukanlah tugas yang ringan, sehingga tidak semua orang dapat menjalaninya. Dan jika sudah tidak ada lagi manusia yang mampu mengemban tugas ini, maka ketika kerusakan sudah merajalela dan tidak ada lagi kebaikan itulah akhir dari dunia (kiamat). Pada saat itu, umat manusia yang tersisa berasal dari dua golongan. Golongan pertama yakni golongan yang mendustai Islam dan senantiasa berbuat kerusakan. Sedangkan, golongan kedua adalah mereka yang ragu-ragu dalam menjalani keIslamannya.
Beberapa tanda kerusakan yang terjadi adalah:
  1. Kerusakan dalam bidang hukum dan politik
Kerusakan ini dikarenakan manusia telah jauh meninggalkan Al-Qur’an dan berhukum tidak dengan Al-Qur’an, melainkan dari hukum yang dibuat manusia. Bahkan, manusia pun telah berani membuat kitab tandingan Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:  
                                                     ﻮﺇﻧﻬﻢﻟﻴﺼﺪﻭﻧﻬﻢﻋﻦﺍﻟﺴﺒﻴﻞﻭﻳﺤﺴﺒﻮﻥﺃﻧﻬﻢﻣﺤﺘﺪﻭﻥ()ﻭﻣﻦﻳﻌﺶﻋﻦﺫﻛﺮﺍﻟﺮﺣﻤﻦﻧﻘﻴﺾﻟﻪﺷﻴﻄﻨﺎﻓﻬﻮﻟﻪﻗﺮﻳﻦ
“Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (Az-Zukhruf: 36-37).

Adanya paham sekuler pun menjadi pemicu kerusakan dalam bidang pemerintahan. Salah satu contohnya adalah Mesir. Negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, tapi sistem pemerintahannya menganut sistem pemerintahan Barat yang notabene jauh dari nilai keislaman. Kasus terparah berasal dari Turki. Setelah runtuhnya Daulah Turki Utsmany, dengan mengatasnamakan demokrasi sekulerisme menancap kuat dalam sistem pemerintahannya. Salah satu bentuknya adalah dengan pelarangan membawa simbol-simbol keagamaan (mis. jilbab) dalam bidang pemerintahan.
  1. Kerusakan dalam bidang sosial
Dalam bidang sosial, kerusakan yang paling terasa dampaknya adalah akibat dari terlalu mengagung-agungkan manusia. Banyak kita dapati para penganut humanisme (faham yang mengagungkan manusia) yang dengan mengatasnamakan hak asasi manusia berbuat sekehendak hatinya tanpa memperhatikan norma-norma, khususnya norma agama. Atas nama hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi akhirnya pornografi dan pornoaksi yang berbalut seni menjadi masalah yang terus melanda negeri ini. Sebagai wujud emansipasi wanita, kaum perempuan yang selayaknya menjaga kehormatannya malah menjadi garda terdepan pembela budak syahwat. Mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka tengah dieksploitasi dan direndahkan. Jika sudah demikian, sangat sulit untuk mengharapkan akan lahirnya generasi yang berkualitas dari mereka yang tidak pernah mau menghormati dirinya sendiri.
Semua itu tak pernah lepas dari rekayasa orang-orang yang memang tidak pernah menginginkan kebaikan di dunia. Untuk menghancurkan musuh mereka (Islam red.), mereka merancang suatu pemikiran yang bahkan mereka pun sangat anti dengan pemikiran tersebut. Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme (SEPILIS) adalah salah satu bentuk pengaburan terhadap agama (Islam red.), sehingga akan menimbulkan keragu-raguan bagi mereka yang pengetahuan agamanya lemah. Hal ini pun didukung dengan kurangnya pendidikan agama sejak dini. Bahkan, lahirnya berbagai aliran menyimpang yang menjauhkan umat Islam dari agamanya adalah bagian dari konspirasi mereka.
  Di bidang Ekonomi, mereka membentuk bank yang menerapkan sistem bunga yang sangat merugikan dan tidak sesuai dengan hukum Islam. Mereka memonopoli perdagangan dan  mengeksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan pribadi.
Mereka juga merusak bahasa, khususnya bahasa Arab dengan menciptakan bahasa Arab ’ammiyah dengan tujuan untuk merusak bahasa Arab fusha (bahasa arab Al-Qur’an). Jadi, secara tidak langsung untuk merusak Al-Qur’an dan hadits agar umat Islam meragukannya dan jauh dari keduanya. Selain itu, mereka juga berusaha merusak sejarah dengan meragukan sahabat, bahkan para nabi.
Melalui pendidikan mereka mengembangkan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan, akan tetapi pada dasarnya menyesatkan. Salah satunya adalah nasionalisme. Nasionalisme yang mereka ajarkan adalah nasionalisme sempit yang terbatas pada teritorial, bangsa, ras dll. Hal ini kemudian memunculkan adanya Islam Arab, Islam Mesir, Islam Eropa, Islam Indonesia dll. Padahal dalam Islam, nasionalisme tidak terbatas pada teritori, ras, suku, bahasa dll. Dalam Islam, di mana asma Allah diagungkan dan di mana terdapat muslim yang tinggal maka daerah itu adalah wilayah Islam. Persaudaraan dalam Islam tidak terbatas oleh kesamaan warna kulit, negara dan bahasa. Akan tetapi, setiap yang meyakini bahwa Allah itu Esa dan Muhammad adalah Rasul-Nya, maka dia adalah saudara dan wajib untuk dibela. Dengan paham nasionalisme ini, musuh-musuh Islam tersebut telah mampu memecah-belah umat Islam.
Wahai orang yang berfikir tentang ketentraman dan kedamaian bumi ini....
Pahamilah masalah ini dengan cermat...
Kembalilah kepada Islam...
Ya Allah, saksikanlah...
Sesungguhnya aku telah menyampaikan... (Hasan Al-Banna)

Maraji’:
Ancaman Global Freemasonry oleh Harun Yahya, Dzikra
Knight Templar oleh Rizky Ridyasmara, Pustaka Al-Kautsar
Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal oleh Dr. Shadiq Amin, Fitrah Rabbani
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin oleh Hasan Al-Banna, Era Intermedia

Eksistensi Tauhid dalam Kehidupan

Tauhid secara bahasa adalah menjadikan sesuatu itu satu.....

Tauhidullah adalah mentauhidkan Allah dalam Rububiyah, Uluhiyah dan Asma' wa sifat.
(Untuk lebih jelasnya silahkan cek Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah)

Antara tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah memiliki kaitan yang erat. Tauhid Uluhiyah merupakan konsekuensi dari tauhid Rububiyah. Sedangkan, tauhid Uluhiyah yang benar memiliki syarat yakni pemahaman akan ibadah.
Menurut Ibnu Taimiyyah, ibadah adalah setiap perbuatan yang dicintai oleh Allah yang terlihat atau pun tidak baik berupa perbuatan, perkataan dan apa yang ada di hati.

Adapun tauhid Asma' wa sifat adalah tidak menyerupakan, mengganti, mentakwilkan nama dan sifat Allah dengan sesuatu yang lain tanpa adanya dalil yang jelas. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman;
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ............
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha Mendengar, Maha Melihat" (QS. Asy-Syuura: 11).

Jadi, ikhwahfillah...sekali melakukan penyimpangan dalam tauhid ini, maka tertolaklah atau sia-sialah semua amalan ibadah kita.

Sering kita temui dan mungkin pernah kita lakukan, bersumpah atas nama selain Allah. Maka....mari kita bersama-sama renungkan:
Bersumpah demi Allah tapi berbohong, maka hal itu adalah sebuah dosa besar (kita berdosa karena berbohong dan bersumpah palsu), sedangkan bersumpah demi "sesuatu" (selain Allah red.) tapi jujur, maka itu adalah musyrik.
Marilah kita belajar dari nabi Ibrahim Khaliilullah yang tetap teguh memegang ketauhidannya kepada Allah walaupun ia harus memusuhi orang tuanya sendiri, walaupun ia kemudian dimusuhi kaumnya dan bahkan dibakar dalam api yang menyala-nyala dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiyaa: 58-70.

Lalu, apa imbas ketauhidan itu sendiri bagi diri kita dan lainnya??

Saat kita menegakkan tauhid itu pada pribadi-pribadi kita, maka akan menjadikan tegaknya masyarakat yang bertauhid. Lalu, jika sudah demikian maka akan lahir masyarakat yang merdeka seperti halnya negara Madinah pada zaman Rasulullah....
Beberapa pengaruh tauhid dalam kehidupan kita:
  • merdeka secara hakiki : pada saat suatu masyarakat memiliki keyakinan yang kuat atau prinsip, maka ia tak akan mengekor apa yang dilakukan orang atau kelompok lain. Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfal: 60-64.

  • datangnya keamanan :
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-An'am 82).

Pada saat ayat ini turun, timbul keresahan di kalangan sahabat. Karena kedzaliman terdapat di semua hal, ada kedzaliman kepada Allah, diri sendiri (dengan maksiat), orang lain, dll. Sehingga jika Allah memberikan pujian kepada kaum mu’minin yang tidak pernah dzalim, maka hal ini sangat berat dirasakan oleh para sahabat. Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, siapa orang yang tidak pernah berbuat dzalim ?," beliau menjawab, "Sesungguhnya makna dzalim disini tidak seperti yang kalian kira, akan tetapi yang dimaksud adalah kesyirikan."

Dalam surat Luqman pun disebutkan nasihat Luqman kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirk kepada Allah, karena kesyirikan merupakan kedzaliman yang sangat besar.”

Sehingga makna ayat di atas yaitu kaum mu’minin yang tidak menodai keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka akan mendapatkan keamanan dan petunjuk. Terdapat dua macam keamanan:
Keamanan secara mutlak = bagi orang yang sempurna keimanannya tidak akan disiksa sama sekali.
Keamanan secara umum = bagi orang yang menodai keimanannya dengan perbuatan maksiat, maka dia terdapat kemungkinan untuk disiksa terlebih dahulu.
Seperti halnya penduduk Makkah yang merasa tidak aman atas penyerangan pasukan Abrahah, hingga akhirnya Allah mengirim burung-burung untuk menghabisi bala tentara tersebut. kisah ini diabadikan dengan indahnya dalam Al-Qur'an Surat Al-Fiil. Pada akhirnya Makkah menjadi kota yang aman dengan penduduk yang aman dan tentram setelah Rasulullah diutus membawa risalah Islam kepada mereka (suku Quraisy red.)

  • adanya keberkahan dari Allah :
"Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. di antara mereka ada golongan yang pertengahan. dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka" (QS. Al-Maidah 66).

pada saat kita menjalankan tauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan pernah mengingkari janjiNya.  Jadi, di sini tauhid adalah prioritas, tak bisa ditawar!!!!

  • melahirkan masyarakat berakhlak mulia: kembali mari kita mengingat hadits Rasulullah SAW
"tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari-Muslim)
  • pada saat individu menjalankan tauhid, maka akan melahirkan ta'liful qulub (keterikatan hati) antara mereka : masyarakat muslim ibarat bangunan yang kokoh yang terikat oleh tauhid. Dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfal Allah berfirman:
"dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana" (Al-Anfal: 63).
  • ummat terbaik : manusia diperbaiki dengan sistem. Bagaimana manusia akan bisa diperbaiki jika ia tidak siap dengan sistem tersebut. Nah, apakah sistem yang dimaksud??? Tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur'an.
Jadi...ikhwahfillah, sudahkah kita menyiapkan diri untuk menjadi pribadi yang siap masuk dalam sistem tersebut??? sebuah sistem yang telah terbukti dan teruji di zaman terbaik yang pernah ada....

wallahu 'alam bis shawab
(Kajian Rutin Kamis Sore HIMMPAS UGM edisi 3 Desember 2009)

Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah

Tauhid Rububiyah adalah meyakini bahwa Allah adalah sang Khalik, adalah Tuhan yang patut untuk disembah.
Benarnya seseorang dalam tauhid rububiyah (mengimani Allah) tidak menjamin ia menjadi seorang muslim.
Seperti halnya iblis yang mengimani Allah tapi menjadi makhluk yang dikutuk karena tidak mau bersujud pada Adam a.s.
Kuatnya tauhid Rububiyah akan melahirkan tauhid Uluhiyah.

Tauhid Uluhiyah adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah SWT. Tauhid inilah yang paling banyak penyimpangan.
Mengapa demikian??? Karena memurnikan ibadah itu susah jika tidak memahami makna ibadah tersebut.
ibadah... "adalah suatu ungkapan yang mengandung setiap perkataan dan perbuatan yang terlihat ataupun tidak yang dicintai dan diridhai Allah"
Jadi, ibadah mengandung 3 unsur yakni perbuatan, perkataan dan perasaan. Saat ke-3 unsur tersebut dilandasi bukan untuk dan karena Allah, maka itulah yang dinamakan kemusyrikan. Padahal, Allah menginginkan kemurnian ibadah kepadaNya 100%.

Beberapa kiat untuk menggapai tauhid Uluhiyah:
1. harus memahami dan memiliki ilmu tentang ibadah
Ibadah tanpa ilmu akan melahirkan 2 keburukan yang saling berkebalikan, yaitu berlebih-lebihan dalam ibadah dan meremehkan ibadah.
2. bersegera merealisasikan ibadah
Marilah mencontoh Abu Bakar Ash-Shidiq ra. yang senantiasa bersegera melakukan kebaikan, dan hal ini haruslah dilakukan oleh seorang muslim karena meyakini bahwa hidup adalah untuk beribadah.
3. istiqamah dalam ibadah
"ibadah yang baik adalah ibadah yang berkesinambungan walaupun sedikit"
4. meragamkan ibadah
Menjalankan variasi ibadah untuk mengoptimalkan potensi.....
Keragaman ibadah dapat menjauhkan kita dari rasa jumud.

Wallahu 'alam bi shawab....

(Kajian Rutin Kamis Sore HIMMPAS UGM edisi 22 Oktober 2009)

April 28, 2010

agar kita senantiasa tegar

Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia, dan saat dilema waktu itu terjadi yakinlah
"ketika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita di saat-saat yang tak terduga dan dengan sarana apa menjemputnya"
Bergeraklah di saat diri merasa berat....

KARENA

Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian....
Allah memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan...
Allah melatih ketegaran dalam kesakitan....

Tetaplah istiqamah...
sertakan Allah di setiap langkah...
hati yang memikul amanah adalah hati yang kuat, teguh dan tulus
tak berharap apapun, tak sanggup memberi dengan segenap apapun
sebab hanya dari Allah berharap balasan...

Jangan minta dikurangi beban, tapi mintalah punggung lagi agar kuat membawanya.....


(kombinasi taujih dari dua orang saudara agar kita senantiasa tegar memikul amanah ini.....)

tilawah

ibadah ini memang tidak mudah......bagi mereka yang tak terbiasa, bagi mereka yang tak bisa membaca dan juga bagi mereka yang terlalu banyak agenda dunia.....

akan tetapi ibadah ini menjadi ringan....bagi mereka yang hatinya dipenuhi cinta, bukan cinta yang melemahkan jiwa tapi cinta yang menjadikan seorang pengecut menjadi berani walaupun dunia memusuhinya....

ibadah ini menjadi oase bagi jiwa yang dahaga....bagi mereka yang menderita....bagi mereka yang sudah tak memiliki asa....

membayangkan cinta, pahala, dan surga......
ibadah ini memang berat....tapi semoga beratnya hati dalam mengerjakannya seakan terseret dalam langkah kita
menjadikan ia pemberat keranjang amal di hari perhitungan.....
menjadikan ia penyeret langkah kita menuju tempat yang dirindukan di hari pembalasan

karena Ia telah menjanjikan dan sesungguhnya Ia tak akan pernah menyia-nyiakan
setiap amal kita walaupun beratnya menjalani,
setiap peluh dalam ikhtiar kita,
setiap isak tangis dalam doa kita,
setiap langkah walaupun terseret
karena janjiNya adalah kemestian....

maka, saat hati ini berat, saat lidah ini kaku, saat suara ini tak ingin keluar
ingatlah....janjiNya.....
pahala berlipat, surga dengan sungai-sungai yang memikat
hati yang senantiasa tenang dan jiwa yang kuat

semoga kita senantiasa dapat meringankan langkah kita di saat ia terasa berat
mengikhlaskan hati kita di saat rasa enggan itu hinggap
agar kita pantas dan layak mengharap surgaNya