Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan

November 14, 2010

CACING JANTUNG (Dirofilaria Immitis)

Dirofilaria immitis adalah cacing jantung pada anjing. Merupakan cacing parasit yang mengisap cairan tubuh dan merusak jaringan tubuh inang yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan mekanik. Cacing ini dijumpai pada ventrikel kanan dan arteria pulmonalis (kadang-kadang pada beberapa lokasi lain seperti kamar mata depan dan rongga peritoneum) anjing, kucing, rubah, primata dan singa laut di seluruh dunia.
A. Sistematika
Filum                     : Nemathelminthes
Kelas                     : Phasmidia (Secernentea)
Ordo                      : Spirudida
Superfamili            : Filariicae
Famili                    :
Genus                    : Dirofilaria
Spesies                  : Dirofilaria immitis
B. Morfologi
Ujung anterior membulat atau melebar ke lateral, mulutnya tidak mempunyai bibir dan papila kepala tidak nyata. Ekornya pendek, pada cacing jantan ujungnya berbentuk spiral dengan spikulum tidak sama besar. Vulva sedikit di belakang esofageal, bersifat viviparosa dan biasanya mikrofilaria tidak berselubung yang berada di dalam darah. 
Cacing jantan panjangnya 120-200 mm dengan diameter 0,7-0,9 mm. Sedangkan cacing betina berukuran 250-310 mm dengan diameter 1,0-1,3 mm. Mikrofilaria dalam darah tidak berselubung dengan panjang 286-340 mikron dan diameter 6-7 mikron setelah difiksasi dengan formalin.
D. Penyebaran
Walaupun pada awalnya hanya terbatas di daerah beriklim bagian selatan, kini cacing ini tersebar ke semua daerah dengan berbagai iklim di mana vektornya (nyamuk) ditemukan.. Perpindahan parasit ini dari anjing ke anjing terjadi di seluruh wilayah Amerika Serikat (kecuali Alaska) dan daerah panas di Kanada. Infeksi tertinggi ditemukan 150 mil dari pantai Atlantik, mulai dari Texas hingga New Jersey dan sepanjang sungai Mississippi. Parasit ini juga telah ditemukan di Amerika Selatan, Eropa bagian selatann, Asia Tenggara, Timur Tengah, Australia dan Jepang.
E. Inang dan Siklus Hidup.
Seperti halnya dengan nematoda filaria yang lain, Dirofilaria immitis ini memiliki inang perantara. Terdapat sedikitnya lima genus nyamuk yang dapat bertindak sebagai inang perantara untuk sarana penyebaran cacing ini.
Di dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria pindah dari usus ke hemosel dan kemudian ke saluran Malphigi dalam waktu 24-36 jam. Masuk ke saluran Malphigi menyerupai bentuk sosis (larva stadium I), dan menyilih menjadi larva stadium II yang memanjang. Dalam waktu 10-14 hari berkembang menjadi larva stadium III yang infektif. Larva ini keluar menuju hemosel dan berpindah menuju labium nyamuk sehingga sewaktu nyamuk menggigit larva ini berpindah ke dalam tubuh inang barunya.
Setelah larva masuk ke tubuh inang melalui gigitan, ia akan pindah melalui jaringan menuju lokasi sementara (membrana muskuler, jaringan subkutan, subserosa, jaringan adiposa, dan terkadang otot)  untuk berkembang, menyilih menjadi larva stadium IV dengan panjang 25-110 mm. Selanjutnya ia akan masuk ke dalam vena dan mencapai jantung dalam waktu kurang lebih 85-120 hari.
F. Patologi dan gejala klinis.
Patogenisitas dimulai dengan adanya rangsangan mekanis terhadap selaput jantung dan pembuluh-pembuluh darah yang berdekatan. Dirofilaria immitis dewasa terdapat bergerombol di dalam ventrikel kanan jantung dan karena denyutan jantung maka gumpalan cacing-cacing ini dapat menyumbat aliran darah dari ventrikel kanan ke paru-paru sehingga paru-paru kekurangan darah. Sumbatan aliran darah ini dapat menyebabkan penderita pingsan seketika karena kekurangan oksigen. Jika sumbatan berlangsung lama penderita akan mati karena asfiksia.
Dirofilaria immitis merupakan parasit dalam jantung anjing. Pada anjing sering terjadi kematian mendadak yang diakibatkan oleh infeksi parasit ini terutama pada anjing balap sewaktu sedang berlari. Hingga saat ini sekitar 37 kasus terjadi pada manusia.   
                                                         
Berbagai spesies Dirofilaria yang belum dewasa dapat menginfeksi manusia sebagai parasit konjungtiva atau subkutan. Terkadang Dirofilaria dewasa dilaporkan  menjadikan manusia sebagai inang abnormal.
G. Diagnosis
Tes darah merupakan yang paling umum dilakukan untuk diagnosis. Tes ELISA digunakan untuk mendeteksi antibodi untuk cacing jantung, akan tetapi sensitivitas dan spesifisitasnya rendah. Umumnya tes ELISA mendeteksi antigen cacing betina. Spesifisitas tes ini mendekati 100 % dengan sensitifitas sekitar 85%. Hasil negatif dapat terjadi bila cacing yang menginfeksi dalam jumlah kecil, infeksi dini dan cacing yang ada berupa cacing jantan. Hasil positif juga dapat ditunjukkan dengan keberadaan mikrofilaria, biasanya menggunakan filter test. Selain itu, sinar X dapat memberikan gambaran kerusakan jantung yang disebabkan infeksi parasit ini.

PUSTAKA
Brotowidjoyo, Mukayat D. 1987. Parasit dan Parasitisme Edisi Pertama. PT Media Sarana Press: Jakarta.

Noble, Elmer R. dan Noble, Glenn A. 1989. PARASITOLOGI: Biologi Parasit Hewan Edisi Kelima. Alih Bahasa: Wardiarto. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Levine, Norman D. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Alih Bahasa: Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Pengembangan Alat Diagnostik HBsAg Berdasarkan Metode Imunokromatografi

Pendahuluan
Infeksi virus hepatitis B adalah salah satu hepatitis yang tersering ditemukan dan merupakan problem kesehatan masyarakat yang besar di dunia. Pada saat ini diperkirakan terdapat 350 juta pengidap hepatitis B di dunia dan tiga perempat dari mereka (78%) berada di negara Asia Tenggara termasuk Indonesia (WHO, 1987). Di Indonesia hepatitis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit infeksi dan paru dengan jumlah penderita mencapai ± 40 juta.
Rapid test merupakan uji kromatografi immunoassay dengan menggunakan metode “direct sandwich”.  Prinsip dasar rapid test adalah pengikatan antigen oleh antibodi monoklonal yang spesifik.  Salah satu jenis rapid tes yang banyak digunakan adalah alat diagnostik berupa stik uji untuk mendeteksi keberadaan antigen atau pun antibody dalam sampel berupa darah, plasma atau serum. Stik uji ini mirip dengan stik kehamilan yang menggunakan prinsip imunokromatografi yang telah banyak digunakan dan beredar di masyarakat.
Secara umum metode Imunokromatografi  untuk  mendeteksi sebuah spesimen dengan menggunakan dua antibodi. Antibodi pertama berada  dalam larutan uji atau sebagian terdapat  pada  membran berpori dari alat uji.  Antibodi ini dilabeli dengan lateks partikel atau partikel koloid emas (antibody berlabel). Keberadaan antigen akan dikenali oleh antibody berlabel dengan membentuk ikatan antigen-antibodi . komplek ikatan ini kemudian akan mengalir  karena adanya  kapilaritas menuju penyerap, yang terbuat dari kertas penyaring. Selama aliran, kompleks ini akan dideteksi dan diikat oleh antibody kedua  yang terdapat pada  membran berpori, sehingga terdapat komplek pada daerah deteksi pada membran yang menunjukkan hasil uji.
Immunochromatography test (ICT) HBsAg  merupakan uji imunokromatografi yang dapat mendeteksi antigen yang terdapat pada serum atau plasma.  Prinsip dasarnya adalah adanya pengikatan antara antigen (HBsAG) dengan antibody (anti-HBs) pada daerah test line, selanjutnya antibody akan berikatan dengan colloidal gold-labeled conjugate.  Komplek yang terbentuk akan bergerak pada membran nitroselulosa.
Deteksi antigen dengan menggunakan metode ini memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan metode yang lain seperti ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay), RIA-IRMA dan lain-lain. Kelebihan metode ini adalah waktu yang diperlukan untuk pengujian relatif singkat sekitar 2-10 menit dan hasil uji dapat dilihat secara langsung. Pengujian dengan metode ini juga dapat dilakukan oleh setiap orang karena tidak memerlukan ketrampilan khusus seperti halnya dalam uji ELISA. Selain itu, metode ini dapat dijadikan sebagai pemeriksaan awal (screening test) untuk uji kualitatif dan dapat dikerjakan langsung di lapangan karena merupakan alat uji yang sederhana. Walaupun, metode ini lebih sederhana dan mudah dibandingkan metode lainnya, akan tetapi memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terhadap antigen.

Riset dan Pengembangan
Penelitian tentang pembuatan alat diagnostik yang praktis berdasarkan metode imunokromatografi terhadap HBsAg telah banyak dilakukan dan dikembangkan. Penelitian ini meliputi penelitian pembuatan antibody monoklonal yang spesifik terhadap HBsAg, uji sensitivitas dan uji spesifisitas. Penelitian ini sangat diperlukan untuk membandingkan strip HBsAg yang dikembangkan dengan alat diagnostic lainnya yang beredar di pasaran. 
Pembuatan antibodi monoklonal
Pembuatan antibodi monoklonal dilakukan berdasarkan teknologi hibridoma dengan menggunakan hewan coba berupa tikus atau kelinci. Langkah-langkah dalam pembuatan antibody monoklonal seperti pada gambar di bawah ini:

Alur pembuatan antibodi monoklonal
  1. Antigen disuntikkan pada hewan coba dengan harapan hewan coba membentuk antibodi terhadap antigen yang disuntikkan. Darah dari hewan coba kemudian disentrifugasi untuk memisahkan plasma darah dengan serum. Serum yang didapatkan mengandung antibody terhadap antigen, akan tetapi antibody yang dihasilkan merupakan antibody poliklonal.
  2. Sel limfosit dari hewan coba yang telah disuntik antigen kemudian diambil dan difusikan dengan sel myeloma sehingga terbentuklah sel hibridoma. Sel hibridoma ini kemudian diklon sehingga didapatkan antibody monoklonal yang spesifik terhadap antigen.
Uji Sensitivitas dan Uji Spesifisitas
Uji sensitivitas dan uji spesifisitas alat diagnostic sangat penting dilakukan untuk mengetahui kualitas alat diagnostic yang dikembangkan. Uji sensitivitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan suatu alat diagnostic dalam mendeteksi keberadaan suatu senyawa, dalam hal ini HBsAg. Begitu pula halnya dengan uji spesifisitas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui tingkat spesifikasi alat diagnostic dalam mendeteksi suatu senyawa (antigen) tertentu.

Tahapan Pengembangan Produksi (Scalling Up)
Prototype strip diagnostik yang telah melalui uji kelayakan akan menjalani pengembangan proses (scalling up). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan scale up adalah faktor-faktor yang berubah secara mekanik maupun fisik dengan adanya scale up yang dapat menurunkan sensitivitas dan spesifisitas produk.

Tahapan Proses Produksi HBsAg strip
Membran nitroselulosa
Membrane nitroselulosa dengan pori-pori 8 μm disemprot membentuk garis dengan antibody monoklonal dengan konsentrasi 0,4 mg/ml menggunakan mesin semprot (garis pertama). Selanjutnya, sejajar dengan garis pertama dibentuk garis kedua dari anti-immunoglobulin kelinci (IgG) dengan konsentrasi 0,2 mg/ml. Membrane kemudian dikeringkan selama 30 menit sebelum direndam ke dalam larutan penyangga selama 1 menit. Setelah perendaman, membrane dikeringkan kembali selama 60 menit pada suhu 37°C.
Matrik konjugat
Lapisan selanjutnya berupa matriks berpori yang disemprot dengan campuran dari antigen dan konjugat (antibodi monoklonal-koloid emas).  Lapisan ini kemudian dikeringkan pada suhu 37°C selama 2 jam.
Perakitan
Matrik berpori digabungkan dengan lembaran yang mengandung membrane nitroselulosa dan pada salah satu ujungnya. Lembaran kemudian dipotong menjadi strip dengan ukuran 5-6 mm.

Referensi

Peng, F., Z. Wang, S. Zhang, R. Wu, S. Hu, Z. Li, X. Wang, dan D. Bi.  2008.  Development of an Immunochromatographic Strip for Rapid Detection of H9 Subtype Avian Influenza Viruses.  Clinical dan Vaccine Immunology : 569-574.
Shyu, Rong-Hwa, Huey-Fen Hsyu, Hwan-Wun Liu and Shiao-Shek Tang. 2002. Colloidal gold-based immunochromatographic assay for detection of ricin. Toxicon 40: 255-258.

Ward, P.A., J. Adams, D. Faustman, G.F. Gebhart, J.G. Geistfeld, J.W. Imbaratto, N.C. Peterson, F. Quimby, A. Marshak-Rothstein, A.N. Rowan, and M.D. Scharff. 1999. Monoclonal Antibody Production. National Academy Press. Washington DC.

Yu-Huei Lin, Yu-Hue, Yi Wang, A. Loua, Gwo-Jen Day, Yan Qiu, E.C.B. Nadala Jr., Jean-Pierre Allain, and H.H. Lee. 2008. Evaluation of a New Hepatitis B Virus Surface Antigen Rapid Test with Improved Sensitivity. Journal of Clinical Microbiology Vol. 46, No. 10: 3319-3324.

VIRUS HEPATITIS B

Pendahuluan
Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh banyak hal namun yang terpenting di antaranya adalah karena infeksi virus-virus hepatitis. Virus-virus ini selain dapat memberikan peradangan hati akut, juga dapat menjadi kronik. Virus-virus hepatitis dibedakan dari virus-virus lain yang juga dapat menyebabkan peradangan pada hati karena sifat hepatotropik virus-virus golongan ini. Virus yang menyebabkan penyakit ini berada dalam cairan tubuh manusia yang dapat ditularkan ke orang lain. Sebagian orang yang terinfeksi virus ini dapat sembuh dengan sendirinya, namun demikian virus ini akan menetap dalam tubuh seumur hidup.
Di Indonesia hepatitis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit infeksi dan paru dengan jumlah penderita mencapai 40 juta. Di Jakarta ditemukan 239 penderita Hepatitis akut (61,09% oleh karena HAV,17,5% oleh karena HBV,dan 21,34%). Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 350 juta hepatitis B, sekitar 11 juta di antaranya berada di Indonesia.
Infeksi virus hepatitis B adalah salah satu hepatitis yang tersering ditemukan dan merupakan problem kesehatan masyarakat yang besar di dunia. Pada saat ini diperkirakan terdapat 350 juta pengidap hepatitis B di dunia dan tiga perempat dari mereka (78%) berada di negara Asia Tenggara termasuk Indonesia (WHO, 1987). Prevalensi HBsAg di Indonesia secara global termasuk kelompok daerah endemis sedang sampai tinggi. Mengingat Indonesia dengan geografis yang luas, maka didapatkan data yang sangat bervariasi. Menurut data dari Tim hepatitis Nasional prevalensi hepatitis B berkisar antara 5 – 20%.
  1. Virus Hepatitis B
Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Virus ini pertama kali ditemukan oleh Baruch Blumberg pada tahun 1965 dan dikenal dengan nama antigen Australia. Virus ini termasuk virus DNA. Virus hepatitis B berupa partikel dua lapis berukuran 42 nm yang disebut "Partikel Dane". Lapisan luar berupa Hepatitis B surface antigen (HBsAg) yang terdiri atas lipoprotein membungkus partikel inti (core). Pada inti terdapat DNA VHB Polimerase. Pada partikel inti terdapat Hepatitis B core antigen (HBcAg) dan Hepatitis B envelope antigen (HBeAg). Virus hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90 hari.
A.1. Virologi
Virus hepatitis B (HBV) termasuk anggota keluarga virus Hepadnaviridae. Virus hepatitis utuh adalah suatu virus DNA yang berlapis ganda (double shalled), dengan diameter 42 nm. Bagian luar virus ini terdiri dari HBsAg, sedang bagian dalam adalah nucleocapsid yang terdiri dari HBcAg. Di dalam nukleokapsid didapatkan kode genetik VHB yang terdiri dari DNA untai ganda (double stranded) dengan panjang 3200 nukleotida.
Virus hepatitis mempunyai 3 bentuk yaitu: partikel bentuk sphaeris berdiameter 22 nm, partikel Dane dengan diameter 42 nm, partikel berbentuk tubuler (filament) berdiameter 22 nm dan panjang 200-499 nm.
Virus hepatitis terdiri dari dua bagian. Selubung luar (Hepatitis B surface antigen = HBsAg) yang membungkus bagian dalam virus, dan bagian dalam terdiri dari inti dikenal sebagai Hepatitis B core antigen (HBcAg), dan Hepatitis B envelope antigen (HBeAg), partially double stranded DNA polimerase (DNA-p) serta suatu aktivitas protein kinase.
Hepatitis B surface Antigen (HBsAg)
Antigen permukaan (HBsAg) selain merupakan pembungkus partikel inti, juga terdapat dalam bentuk lepas berupa partikel bulat berukuran 22 nm dan partikel tubular yang berukuran sama dengan panjang berkisar antara 50 – 250 nm. Berdasarkan sifat imunologik protein pada HBsAg, virus dibagi atas 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw, dan ayr yang menyebabkan perbedaan geografi dalam penyebarannya. Subtipe adw terjadi di Eropa, Amerika dan Australia. Subtipe ayw terjadi di Afrika Utara dan Selatan. Subtipe adw dan adr terjadi di Malaysia, Thailand, Indonesia. Sedangkan subtipe adr terjadi di Jepang dan China
HBsAg mempunyai paling sedikit 5 determinan antigenik yaitu determinan grup spesifik a yang terdapat pada semua HBsAg, dua pasang sub determinan subtipe yaitu d, y dan w, r. dengan ditemukannya determinan subtipe maka subtipe HBsAg pun bertambah yaitu : adw2; adw4; adr ayr, ayw2, ayw3, ayw4, adyw, adyr, adwr, aywr. Subtipe tidak menentukan berat ringan perjalanan penyakit, tetapi lebih berarti secara epidemiologi.
Hepatitis B core Antigen (HBcAg)
Antigen yang merupakan produk gen core HBV dan tidak terdeteksi di dalam darah. Dapat ditemukan pada jaringan hati pada infeksi akut dan kronik.
Anti-HBs
Biasanya tidak terdeteksi jika masih terdapat HBsAg. Keberadaan antibodi ini menunjukkan proses penyembuhan dan kekebalan terhadap infeksi HBV. Vaksinasi terhadap HBV akan sukses apabila menginduksi pembentukan antibodi ini dalam kadar yang cukup untuk perlindungan terhadap infeksi.
Antibodi Anti pre-S
Setelah infeksi primer oleh HBV, dalam darah pasien akan terdapat anti-pre-S1, anti-pre S2, dan anti-S. Anti-pre S1 biasanya timbul lebih dulu dari S.
Anti-HBc
Anti-HBc pada hepatitis B akut timbul pada saat terjadi kelainan hati, kemudian kadarnya meninggi dengan cepat serta menetap selama hidup. Keberadaan antibodi ini dalam kadar rendah selama terjadi replikasi virus.
IgM anti-HBc
Antibodi ini terdeteksi pada hepatitis akut dan bertahan selama tiga bulan sampai setahun pada fase penyakit sembuh, pada infeksi yang berkembang menjadi kronik. IgM anti-HBc terdapat menetap dalam kadar rendah selama terjadi replikasi virus.
Hepatitis B envelope antigen (HBeAg)
Munculnya HBeAg dalam serum erat kaitannya dengan partikel Dane dan petanda serologik yang lain seperti HBcAg dan DNA polymerase (DNA-p). Pada kasus hepatitis akut, HBeAg positif menandakan bahwa replikasi VHB masih aktif. Fase non replikasi biasanya ditandai dengan munculnya HBe.
Anti-HBe
Anti bodi ini terdeteksi jika HBeAg hilang pada hepatitis akut dan kronik. Pada hepatitis B akut, adanya anti-HBe menunjukkan proses penyembuhan infeksi, meskipun masih terdapat HBsAg. Jika terjadi mutasi virus pada daerah per-core, replikasi HBV berjalan terus walaupun tidak membuat HBeAg lagi.
DNA polymerase (DNA-p) dan DNA-VHB
Virus hepatitis B memiliki suatu enzim endogen yang disebut DNA-polimerase (DNA-p). Enzim ini didapatkan dalam partikel Dane dan terletak di bagian dalam dari core. Serum dengan HBsAg positif yang memperlihatkan aktifitas enzim ini, menunjukkan bahwa banyak terdapat partikel Dane dan umumnya menunjukkan HBeAg positif. Sebaliknya, pada serum HBsAg positif yang tidak menunjukkan adanya aktivitas DNA-p umumnya tidak atau hanya sedikit mengandung partikel Dane dan HBeAg juga umumnya negatif. Berdasarkan kenyataan ini, maka banyak para ahli berpendapat bahwa adanya aktivitas DNA-p dan positifitas HBeAg merupakan petanda serologik yang baik untuk menunjukkan adanya virus hepatitis B yang utuh di dalam sirkulasi darah dan menandakan efektifitas yang tinggi.
A.2. Cara Penularan Virus
Pada awalnya infeksi HBV diduga hanya dapat ditularkan dengan pemindahan serum yang infeksius (parental), dan karena itu penyakit ini pernah dinamakan hepatitis serum. Kemudian diketahui infeksi HBV dapat ditularkan dengan berbagai cara baik parental maupun non parental. Di daerah dengan prevalensi infeksi HBV tinggi, cara penularan non parenteral lebih penting dibandingkan dengan cara penularan parenteral. Untuk mudahnya cara penularan infeksi HBV dapat dibagi tiga bagian yaitu:
1. Melewati kulit.
2. Melewati selaput lendir.
3. Penularan perinatal.
Cara penularan HBV melalui kontak personal yang erat dan dengan jalan seksual. Hubungan seksual yang promiskus mempunyai resiko tinggi khususnya pria homoseksual. Antigen permukaan Hepatitis B (HBsAg) ditemukan secara berulang-ulang dalam darah dan berbagai cairan tubuh lainnya. Adanya antigen dalam urine, empedu, faeses, keringat dan air mata juga telah dilaporkan tetapi belum dipastikan. Penularan dengan cara ini dikenal juga dengan cara penularan non-parenteral.
Cara penularan HBV di daerah tropik sama dengan cara penularan yang terjadi di bagian dunia lainnya, tetapi faktor-faktor tambahan mempunyai arti penting. Faktor tambahan tersebut termasuk tatto tradisional dan perlukaan kulit, pengaliran darah, sirkulasi ritual dengan alat yang tidak steril dan gigitan berulang oleh vektor arthropoda pengisap darah. Cara penularan ini disebut juga sebagai cara penularan parenteral.
Hasil penelitian mengenai peranan serangga penggigit dalam penyebaran HBV masih merupakan pertentangan. HBsAg dapat dideteksi pada beberapa spesies nyamuk dan kutu yang ditangkap di daerah liar atau yang secara eksperimen diberi makan darah yang terinfeksi, tetapi tidak terdapat bukti yang menyakinkan mengenai replikasi virus di dalam tubuh serangga. Penularan mekanik dari infeksi mungkin terjadi, khususnya akibat pemberian makanan yang terhenti di daerah prevalensi tinggi.

Pola Penularan.
Walaupun infeksi HBV dapat ditularkan dengan berbagai cara tetapi hanya terdapat 2 macam pola penularan terpenting yaitu pola penularan vertikal dan pola penularan horizontal. Pola penularan horizontal dapat melalui dua jalur, yaitu :
Penularan melalui kulit
Virus Hepatitis B tidak dapat menembus kulit yang utuh, maka infeksi HBV melalui kulit dapat terjadi melalui dua cara, yaitu dengan ditembusnya kulit oleh tusukan jarum atau alat lain yang tercemar bahan infektif, atau melalui kontak antara bahan yang infektif dengan kulit yang sudah mengalami perubahan/lesi.
Penularan melalui mukosa
Mukosa dapat menjadi port d’entry infeksi HBV yaitu melalui mulut, mata, hidung, saluran makan bagian bawah dan alat kelamin.
Pengidap HBsAg merupakan suatu kondisi yang infeksius untuk lingkungan karena sekret tubuhnya juga mengandung banyak partikel HBV yang infektif, saliva, semen, sekret vagina. Dengan demikian kontak erat antara individu yang melibatkan sekret-sekret tersebut, dapat menularkan infeksi HBV, misal perawatan gigi dan yang sangat penting secara epidemiologis adalah penularan hubungan seksual.
Pola penularan vertikal yaitu dari ibu hamil yang mengidap infeksi HBV kepada bayi yang dilahirkan. Yang dapat terjadi pada saat di dalam rahim (intrauterin), pada saat persalinan (intrapartum) dan pasca persalinan (postpartum).
Penularan infeksi HBV terjadi saat proses persalinan oleh karena adanya kontak atau paparan dengan sekret yang mengadung HBV (cairan amnion, darah ibu, sekret vagina) pada kulit bayi dengan lesi (abrasi) dan pada mukosa (konjungtiva). Bayi yang dilahirkan dari ibu yang HBsAg+ HBeAg+ akan menderita HBV. Infeksi yang terjadi pada bayi ini tanpa gejala klinis yang menonjol, keadaan ini menyebabkan ibu menjadi lengah dan lupa membuat upaya pencegahan.

Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Penularan
1. Konsentrasi virus.
2. Volume inokulum
3. Lama kontak
4. Cara masuk HBV ke dalam tubuh
5. Kerentanan individu yang bersangkutan
B.     Patologi Hepatitis B
Pada manusia hati merupakan target organ bagi virus hepatitis B. Virus Hepatitis B (VHB) mula-mula melekat pada reseptor spesifik di membran sel hepar kemudian mengalami penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar. Dalam sitoplasma VHB melepaskan mantelnya, sehingga melepaskan nukleokapsid. Selanjutnya nukleokapsid akan menembus dinding sel hati. Di dalam inti, asam nukleat VHB akan keluar dari nukleokapsid dan akan menempel pada DNA hospes dan berintegrasi pada DNA tersebut. Selanjutnya DNA VHB memerintahkan sel hati untuk membentuk protein bagi virus baru dan kemudian terjadi pembentukan virus baru yang selanjutnya dilepaskan ke peredaran darah. Mekanisme terjadinya kerusakan hati yang kronik disebabkan karena respon imunologik penderita terhadap infeksi. Apabila reaksi imunologik tidak ada atau minimal maka terjadi keadaan karier sehat.
Gambaran patologis hepatitis akut tipe A, B dan Non A dan Non B adalah sama yaitu adanya peradangan akut di seluruh bagian hati dengan nekrosis sel hati disertai infiltrasi sel-sel hati dengan histiosit. Bila nekrosis meluas (masif) terjadi hepatitis akut fulminan.
Bila penyakit menjadi kronik dengan peradangan dan fibrosis meluas di daerah portal dan batas antara lobulus masih utuh, maka akan terjadi hepatitis kronik persisten. Sedangkan bila daerah portal melebar, tidak teratur dengan nekrosis di antara daerah portal yang berdekatan dan pembentukan septa fibrosis yang meluas maka terjadi hepatitis kronik aktif.
  1. Cara Pencegahan
Ada tiga macam cara pencegahan infeksi HBV yang terpenting yaitu :
1) perbaikan hygiene dan sanitasi
2) pencegahan penularan parenteral
3) immunisasi.
Pencegahan penularan parenteral yang terpenting adalah penapisan HbsAg pada darah pratransfusi, sterilisasi alat kedokteran secara virusidal dan prinsip penggunaan satu alat steril untuk satu orang pada tindakan parental.
Pada saat ini telah tersedia vaksin Hepatitis B yang immunogenik baik yang berasal dari plasma maupun yang dibuat dengan rekayasa genetika. Vaksin ini terbukti efektif untuk menimbulkan kekebalan aktif pada individu yang belum terinfeksi (preexposure immonization). Di negara-negara dengan prevalensi infeksi HBV sedang-tinggi, sasaran utama immuniasi Hepatitis B adalah bayi dan anak-anak kecil, sedangkan di daerah prevalensi rendah sasaran utama adalah kelompok risiko tinggi.
Untuk mencegah terjadinya infeksi pada individu setelah terjadi kontak dengan HBV diberikan gabungan immunisasi aktif menggunakan vaksin dan immunisasi pasif menggunakan HBIG (postexposure immunization).
Secara umum program immunisasi Hepatitis B bertujuan menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh infeksi Hepatitis B dan akibat lanjut darinya, dengan memberi kekebalan kepada bayi sedini mungkin.
Program pencegahan infeksi HBV perinatal sangat sulit dilaksanakan di negara-negara sedang berkembang karena hanya sebagian kecil ibu-ibu yang memeriksakan diri serta melahirkan di rumah sakit. Karena itu terdapat kecenderungan untuk melakukan imunisasi HBV pada semua bayi baru lahir sebagai bagian dari immunisasi EPI (Expanded Program Immunization). Selain itu perbaikan hygiene dan sanitasi akan mengurangi penularan infeksi HBV horizontal.

Pustaka
Gani, R.A. 2005. Pengobatan Terkini Hepatitis Kronik B dan C. RS Internasional Bintaro.

Gunawan, S. 2009. Petanda Serologik Infeksi Hepatitis B. Rumah Sakit Biomedika. Mataram.

Rasmilah. 2001. Hepatitis B. USU Lib. Medan.

Siregar, F.A. tth. Hepatitis B Ditinjau dari Kesehatan Masyarakat dan Upaya Pencegahan. USU Lib. Medan.

Suharjo, JB. Dan B. Cahyono. 2006. Diagnosis dan Manajemen Hepatitis B Kronis. Cermin Dunia Kedokteran No. 150: 5-7.

Suparyatmo, JB. 1994. Frekuensi HBsAg & PIBeAg pada ibu Hamii. Cermin Dunia Kedokteran No. 95: 47-49.