Tampilkan postingan dengan label tugas kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas kuliah. Tampilkan semua postingan

April 02, 2011

[sedikit tentang] THALASSEMIA di Indonesia

Setelah melakukan penelitian di Sumatera dan NTT ditemukan bahwa salah satu factor pemicu thalassemia adalah factor genetik. Hal itu dapat dilihat dengan perbandingan penderita thalassemia di kedua daerah. Di daerah Sumatera penderita thalassemia bisa dikatakan sedikit dengan persentase 15% untuk Sumatera Selatan. Sedangkan, di NTT (Sumba) mencapai 36%.

Pernyataan ini didukung oleh ilmuwan biomolekuler Prof.Dr. Sangkot Marzuki yang menyatakan bahwa thalassemia merupakan penyakit genetic tipikal penduduk wilayah tropis seperti Sardinia, Italia, Cyprus, Mediterania, Negara-negara asia dan Papua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan thalassemia juga menjadi masalah Negara-negara subtropik. Hal ini bisa terjadi dengan adanya migrasi penduduk Negara tropis ke wilayah subtropik. Apalagi jika terjadinya perkawinan silang.

Dengan majunya teknologi, maka gen thalassemia bisa didiagnosa. Dengan mengetahui asal/ras pasien maka diagnosa dan penanganan bisa lebih mudah karena diketahui bahwa setiap wilayah asal thalassemia memiliki ciri mutasi gen tersendiri, misalnya di Italia. Setiap pasangan yang akan menikah melakukan diagnosa gen untuk mengetahui apakah mereka menderita thalassemia atau tidak.

Thalassemia merupakan penyakit yang belum dapat disembuhkan. Diawali dengan anemia berat akibat kerusakan sel darah merah. Akibatnya, tubuh kekurangan oksigen. Kondisi ini dapat ditanggulangi dengan transfuse darah. Akan tetapi dengan transfuse pun penderita hanya bisa bertahan 30-40 tahun, sedangkan tanpa transfusi hanya bertahan 10 tahun.

Transfusi pun ternyata membawa efek negatif dalam jangka panjang. Dengan masuknya darah, maka penderita akan mengalami kelebihan zat besi yang dapat menyumbat pernapasan sehingga mengakibatkan kematian. Zat besi yang berlebihan ini pun dapat mengganggu fungsi organ karena terjadinya penumpukan pada organ tersebut. Karena kekurangan darah merah, maka organ tubuh yang memproduksinya akan bekerja lebih berat. Misalnya pembesaran limpa dan perubahan bentuk tulang muka.

Walaupun demikian, bagi orang Indonesia thalassemia hanya diderita oleh kelas menengah ke atas. Itu merupakan anggapan yang salah karena thalassemia bisa terjadi pada siapa saja. Di Indonesia penderita thalassemia mencapai ribuan orang tanpa pengobatan optimal.

Identifikasi 8 Spesies Herpesvirus pada Manusia Dengan Metode Single Nested PCR

S. David Hudnall, Tiansheng Chen, Stephen K. Tyring
Journal of Virological Methods 116 (2004) 19-26
 
Pendahuluan
Sekarang ini diketahui 8 jenis virus herpes pada manusia yaitu: herpes simplex virus 1 (HSV-1), herpes simplex virus 2 (HSV-2), varicella-zoster virus (VZV), Epstein-Barr virus (EBV), cytomegalovirus (CMV), herpesvirus 6 (HHV-6), herpesvirus 7 (HHV-7), dan herpesvirus 8 (HHV-8, Kaposi’s sarcoma yang berasosiasi dengan herpesvirus [KSHV]). Virus herpes ini memiliki genom berupa DNA untai ganda yang relative besar. Infeksi primer dari virus ini ditandai dengan adanya respon antivirus yang kuat, dan virus ini bertahan di dalam tubuh inang sejak terjadinya infeksi primer. Periode laten asimptomatik laten yang panjang ini kemungkinan dapat disela oleh periode reaktivasi virus yang berupa replikasi virus dengan atau tanpa symptom klinis.
Teknik laboratorium untuk mendeteksi infeksi virus herpes pada manusia dari cairan tubuh mencakup kultur virus dan PCR. Akan tetapi, metode kultur untuk mendeteksi EBV, HHV-6, HHV-7 dan HHV-8 tidak praktis dan tidak terlalu dikenal. Walaupun PCR sangat berguna dalam mendeteksi keberadaan infeksi virus, uji skrining 8 jenis virus herpes dengan PCR konvensional membutuhkan 8 reaksi PCR yang terpisah dengan 8 set primer dan probe.
Penggunaan degenerate consensus PCR primer menjadi metode alternative dalam uji skrining untuk target berbeda yang memiliki hubungan yang dekat. Dengan satu set primer untuk polimerisasi daerah conserved dari gen DNA polymerase virus (Van Devanter et al, 1996) kita dapat mengamplifikasi DNA dari 22 virus herpes pada mamalia. Dengan menggunakan pendekatan ini, Rovnak et al. (1998) mengidentifikasi 5 jenis virus herpes pada sapi. Ehlers et al. (1999) memperbaiki metode ini dengan memanfaatkan campuran degenerate dan deoxyinosine (dI)-subtituted primer, sebuah pendekatan untuk mengamplifikasi sekuens yang berhubungan dekat (Knoth et al,. 1988). Dengan sekuensing produk hasil PCR, kita dapat mengidentifikasi 19 herpesvirus yang telah diketahui, termasuk 6 virus herpes pada manusia dan tiga virus baru pada kuda.
Dua metode deteksi berbeda, hibridisasi dot blot dan heteroduplex mobility assay, memungkinkan untuk identifikasi ambigu 8 virus herpes pada manusia, bahkan untuk keberadaan infeksi campuran. Metode ini akan dibuktikan kegunaannya untuk identifikasi cepat  virus herpes pada manusia dari jaringan dan cairan tubuh.
Hasil dan Pembahasan
            DNA dari 8 jenis virus herpes pada manusia, termasuk EBV dan HHV-6 subtipe dapat diamplifikasi dengan teknik nested PCR (Gambar 1). Pada setiap kasus, sekuensing nukleotida dari hasil amplifikasi menunjukkan spesifikasi spesies.
            Identifikasi spesies dengan menggunakan uji dot blot menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Setiap strip tes hanya menunjukkan hasil positif pada satu jenis virus dan tidak terjadi hibridisasi silang antar virus.
            Untuk menentukan sensitivitas uji dot blot, maka dilakukan 10 seri pengenceran DNA virus yang kemudian ditambahkan pada control DNA manusia dan selanjutnya dilakukan uji panel PCR dengan primer internal saja (Gambar 1). Sensitivitas tertinggi diperoleh VZV, EBV, CMV, HHV-6, HHV-7 dan HHV-8 dengan limit deteksi 10-100 copi virus. Hasil sensitivitas rendah diperoleh pada HSV-1 dan HSV-2 dengan limit deteksi 103-104 copi virus. Penambahan 5% DMSO pada campuran PCR meningkatkan sensitivitas terhadap uji HSV-1 dan HSV-2 dengan limit deteksi 10-100 copi virus. Nested PCR untuk semua virus herpes tersebut menghasilkan limit deteksi <10-20 copi virus (data tidak ditunjukkan).




Gambar 1. Uji sensitivitas pan-herpes PCR. Hibridisasi dot blot produk pan-herpes PCR di-PCR dengan primer internal dari 8 jenis virus herpes manusia. Sampel yang akan diPCR merupakan DNA manusia (Ramos cell line) yang telah ditambahkan larutan DNA yang telah diencerkan dengan 10 seri pengenceran (A-H). pengenceran dimulai dari 1010-103 untuk HSV-1 dan HSV-2, dan 108-101 untuk 4 jenis virus lainnya.
            Identifikasi spesies menggunakan HMSA (heteroduplex mobility shift assay) divalidasi dengan analisis sekuens nukleotida yang dicampur dengan tiap klon dari 8 klon produk PCR kira-kira perbandingan equimolar. Campuran DNA didenaturasi dan dibiarkan untuk reanneal dengan lambat untuk membentuk homo- dan heterodupleks. Delapan campuran DNA ini kemudian dielektroforesis. Hasil elektroforesis menunjukkan pita yang bergerak cepat menunjukkan homodupleks dan pita yang bergerak lambat menunjukkan heteridupleks. Tidak adanya heterodupleks pada kolom menunjukkan sampel virus yang diuji sesuai/cocok dengan DNA reference yang digunakan. Dengan pendekatan HMSA ini, kita dapat mengidentifikasi delapan virus herpes manusia yang unambigu (Gambar 2).
Gambar 2. HMSA (Heteroduplex mobility shift assay). Sampel pan-herpes produk PCR dihibridisasi bersama dengan delapan produk PCR virus herpes standar (ki-ka: kol.1 (HSV-1), kol.2 (HSV-2), kol.3 (VZV), kol.4 (EBV), kol.5 (CMV), kol.6 (HHV-6), kol.7 (HHV-7), kol.8 (HHV-8)). Kolom 9 merupakan penunjuk ukuran molekul. (A) HSV-1; pada kol.1 (HSV-1) tidak terdapat pita heterodupleks di bagian atas kolom dan hanya terdapat pita homodupleks tunggal yang bergerak cepat. Pada kol.2 (HSV-2), terdapat sebuah pita heterodupleks di atas pita homodupleks. Pada kolom lainnya terdapat 1-2 pita heterodupleks yang terlihat jelas. Hasil ini menunjukkan sampel positif HSV-1. (B) HSV-2; pada kol.2 (HSV-2) terdapat hanya sebuah pita homodupleks, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks. (C) VZV; pada kol.3 (VZV) terdapat pita homoduplex tunggal, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks. (D) EBV; pada kol.4 (EBV) terdapat pita homoduplex tunggal, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks. (E) CMV; pada kol.5 (CMV) terdapat pita homoduplex tunggal, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks. (F) HHV-6; pada kol.6 (HHV-6) terdapat pita homoduplex tunggal, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks. (G) HHV-7; pada kol.7 (HHV-7) terdapat pita homoduplex tunggal, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks. (H) HHV-8; pada kol.8 (HHV-8) terdapat pita homoduplex tunggal, sedangkan pada kolom lainnya terdapat pita heterodupleks.
            Hasil representative dari deteksi menggunakan dot blot atau HMSA untuk mendeteksi HSV-1, VZV, EBV dan HHV-8 dan dari empat specimen klinis yang berbeda dapat dilihat pada gambar 6. Metode uji ini tidak hanya dapat mendeteksi virus herpes tunggal, tapi juga lebih dari satu jenis virus herpes dari satu sampel (Gambar 6d).
Gambar 3. (a) Deteksi virus herpes dengan hibridisasi dot blot; (b) HMSA sampel klinis menunjukkan HSV-1 positif; (c) HMSA sampel klinis menunjukkan HHV-8 positif (kol.8); (d) Dual HMSA (HSV-1 dan HSV-2). Hasil ini menunjukkan sampel mengandung HSV-1 dan HSV-2.
            Peneliti telah dapat mengembangkan dua metode berbeda untuk identifikasi spesifik dari DNA virus herpes yang teramplifikasi, yaitu metode dot blot dan HMSA (heteroduplex mobility shift assay). Pada uji dot blot, produk PCR yang dilabel digoxigenin dihibridisasi pada membrane nylon strip deteksi dengan linear array dari DNA klon virus herpes standard an dideteksi dengan chemiluminescence immunoassay sederhana. Metode ini sederhana, cepat dan dapat mendeteksi banyak virus herpes dalam satu sampel (Gambar 4). Hibridisasi silang yang tidak signifikan antara virus herpes terdeteksi, dan tidak terdapat positif palsu dari DNA virus non-herpes.





Gambar 4. Pan-herpes dot blot. Gabungan fotografi 8 strip membran nylon (disusun berdasarkan panjang), tiap pre-spot mengandung klon DNA virus herpes (ki-ka: HSV-1 hingga HHV-8) dan dihibridisasi dengan produk PCR pan-herpes yang dilabel digoxigenin dari virus herpes manusia 1-8 (label sepanjang sumbu Y). Hanya DNA dari satu virus herpes yang terdeteksi pada tiap strip nylon.
Metode uji kedua yang berhasil dikembangkan untuk identifikasi spesies virus herpes adalah heterodupleks mobility shift assay. Metode ini merupakan metode yang sensitive dan telah digunakan untuk genotyping dan suntyping virus (White et al., 2000; Barrett-Muir et al., 2001; Barlow et al., 2000; Tatt et al., 2000). HMSA berdasarkan pada perpindahan elektrofortik diferensial DNA hybrid yang terbentuk oleh renaturasi DNA uji yang terdenaturasi dengan DNA reference yang terdenaturasi. Pergerakan elektroforetik incompletely annealed DNA heterodupleks dari pasangan rantai DNA yang tidak cocok lebih lambat dibandingkan homodupleks yang terbentuk antara pasangan rantai yang cocok.

November 14, 2010

CACING JANTUNG (Dirofilaria Immitis)

Dirofilaria immitis adalah cacing jantung pada anjing. Merupakan cacing parasit yang mengisap cairan tubuh dan merusak jaringan tubuh inang yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan mekanik. Cacing ini dijumpai pada ventrikel kanan dan arteria pulmonalis (kadang-kadang pada beberapa lokasi lain seperti kamar mata depan dan rongga peritoneum) anjing, kucing, rubah, primata dan singa laut di seluruh dunia.
A. Sistematika
Filum                     : Nemathelminthes
Kelas                     : Phasmidia (Secernentea)
Ordo                      : Spirudida
Superfamili            : Filariicae
Famili                    :
Genus                    : Dirofilaria
Spesies                  : Dirofilaria immitis
B. Morfologi
Ujung anterior membulat atau melebar ke lateral, mulutnya tidak mempunyai bibir dan papila kepala tidak nyata. Ekornya pendek, pada cacing jantan ujungnya berbentuk spiral dengan spikulum tidak sama besar. Vulva sedikit di belakang esofageal, bersifat viviparosa dan biasanya mikrofilaria tidak berselubung yang berada di dalam darah. 
Cacing jantan panjangnya 120-200 mm dengan diameter 0,7-0,9 mm. Sedangkan cacing betina berukuran 250-310 mm dengan diameter 1,0-1,3 mm. Mikrofilaria dalam darah tidak berselubung dengan panjang 286-340 mikron dan diameter 6-7 mikron setelah difiksasi dengan formalin.
D. Penyebaran
Walaupun pada awalnya hanya terbatas di daerah beriklim bagian selatan, kini cacing ini tersebar ke semua daerah dengan berbagai iklim di mana vektornya (nyamuk) ditemukan.. Perpindahan parasit ini dari anjing ke anjing terjadi di seluruh wilayah Amerika Serikat (kecuali Alaska) dan daerah panas di Kanada. Infeksi tertinggi ditemukan 150 mil dari pantai Atlantik, mulai dari Texas hingga New Jersey dan sepanjang sungai Mississippi. Parasit ini juga telah ditemukan di Amerika Selatan, Eropa bagian selatann, Asia Tenggara, Timur Tengah, Australia dan Jepang.
E. Inang dan Siklus Hidup.
Seperti halnya dengan nematoda filaria yang lain, Dirofilaria immitis ini memiliki inang perantara. Terdapat sedikitnya lima genus nyamuk yang dapat bertindak sebagai inang perantara untuk sarana penyebaran cacing ini.
Di dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria pindah dari usus ke hemosel dan kemudian ke saluran Malphigi dalam waktu 24-36 jam. Masuk ke saluran Malphigi menyerupai bentuk sosis (larva stadium I), dan menyilih menjadi larva stadium II yang memanjang. Dalam waktu 10-14 hari berkembang menjadi larva stadium III yang infektif. Larva ini keluar menuju hemosel dan berpindah menuju labium nyamuk sehingga sewaktu nyamuk menggigit larva ini berpindah ke dalam tubuh inang barunya.
Setelah larva masuk ke tubuh inang melalui gigitan, ia akan pindah melalui jaringan menuju lokasi sementara (membrana muskuler, jaringan subkutan, subserosa, jaringan adiposa, dan terkadang otot)  untuk berkembang, menyilih menjadi larva stadium IV dengan panjang 25-110 mm. Selanjutnya ia akan masuk ke dalam vena dan mencapai jantung dalam waktu kurang lebih 85-120 hari.
F. Patologi dan gejala klinis.
Patogenisitas dimulai dengan adanya rangsangan mekanis terhadap selaput jantung dan pembuluh-pembuluh darah yang berdekatan. Dirofilaria immitis dewasa terdapat bergerombol di dalam ventrikel kanan jantung dan karena denyutan jantung maka gumpalan cacing-cacing ini dapat menyumbat aliran darah dari ventrikel kanan ke paru-paru sehingga paru-paru kekurangan darah. Sumbatan aliran darah ini dapat menyebabkan penderita pingsan seketika karena kekurangan oksigen. Jika sumbatan berlangsung lama penderita akan mati karena asfiksia.
Dirofilaria immitis merupakan parasit dalam jantung anjing. Pada anjing sering terjadi kematian mendadak yang diakibatkan oleh infeksi parasit ini terutama pada anjing balap sewaktu sedang berlari. Hingga saat ini sekitar 37 kasus terjadi pada manusia.   
                                                         
Berbagai spesies Dirofilaria yang belum dewasa dapat menginfeksi manusia sebagai parasit konjungtiva atau subkutan. Terkadang Dirofilaria dewasa dilaporkan  menjadikan manusia sebagai inang abnormal.
G. Diagnosis
Tes darah merupakan yang paling umum dilakukan untuk diagnosis. Tes ELISA digunakan untuk mendeteksi antibodi untuk cacing jantung, akan tetapi sensitivitas dan spesifisitasnya rendah. Umumnya tes ELISA mendeteksi antigen cacing betina. Spesifisitas tes ini mendekati 100 % dengan sensitifitas sekitar 85%. Hasil negatif dapat terjadi bila cacing yang menginfeksi dalam jumlah kecil, infeksi dini dan cacing yang ada berupa cacing jantan. Hasil positif juga dapat ditunjukkan dengan keberadaan mikrofilaria, biasanya menggunakan filter test. Selain itu, sinar X dapat memberikan gambaran kerusakan jantung yang disebabkan infeksi parasit ini.

PUSTAKA
Brotowidjoyo, Mukayat D. 1987. Parasit dan Parasitisme Edisi Pertama. PT Media Sarana Press: Jakarta.

Noble, Elmer R. dan Noble, Glenn A. 1989. PARASITOLOGI: Biologi Parasit Hewan Edisi Kelima. Alih Bahasa: Wardiarto. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Levine, Norman D. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Alih Bahasa: Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Aplikasi Enzim Untuk Mengatasi Alergi Gandum


Pendahuluan
Alergi terhadap makanan merupakan penyakit yang banyak diderita oleh anak-anak di bawah usia 6 tahun. Alergi terhadap makanan adalah salah satu masalah kesehatan yang penting dan memerlukan perhatian masyarakat, karena penyakit ini
Gandum adalah salah satu tanaman yang telah dikonsumsi secara luas oleh masyarakat dunia dan telah banyak dipakai dalam produksi berbagai macam makanan. Gandum atau terigu merupakan alergen yang umum sebagai pemicu terjadinya reaksi alergi terhadap makanan pada usia di bawah 20 tahun. Alergi terhadap gandum menjadi masalah yang sangat penting, khususnya di negara-negara industri.
Luasnya pemanfaatan gandum dan potensinya sebagai allergen ketiga terbesar penyebab alergi terhadap makanan, maka para peneliti mulai mencari pemecahan permasalahan ini. Salah satunya dengan cara pembuatan alternatif tepung gandum yang memiliki alergenisitas yang lebih rendah.

Alergi
Alergi merupakan reaksi yang terjadi karena sensitivitas yang berlebihan (hipersensitif) terhadap suatu molekul (antigen) yang terpapar pada tubuh. Antigen yang memicu terjadinya reaksi alergi dinamakan alergen. Reaksi alergi merupakan salah satu bentuk kelainan dari sistem imunitas tubuh. Alergi  mempengaruhi individu secara atopik untuk mensintesis immunoglobulin E yang spesifik terhadap alergen yang berasal dari lingkungan. Di seluruh dunia, prevalensi alergi seperti asma, dermatitis atopik dan rhinitis alergi meningkat selama dua dekade.
Alergi terhadap makanan merupakan reaksi alergi yang paling umum terjadi di masyarakat dan banyak diderita oleh anak-anak. Angka prevalensi terjadinya reaksi ini terus meningkat. Salah satu penyebab umum reaksi alergi terhadap makanan adalah gandum atau terigu.
Gandum adalah salah satu biji-bijian yang sangat penting, khususnya untuk makanan. Berbagai macam tepung yang digunakan untuk pembuatan makanan merupakan turunan dari gandum dan telah dikonsumsi di seluruh dunia. Akan tetapi respon hipersensitif terhadap gandum merupakan masalah yang telah umum di negara industri.
Pada industri roti, penggunaan enzim merupakan hal yang penting. Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa enzim yang dipakai dalam pembuatan roti memiliki sifat alergenik. Enzim-enzim tersebut antara lain α-amilase, amilogukosidase, selulase, glukoamilase, hemiselulase, lipoksigenase, papain, pektinase dan silanase. Dari semua enzim tersebut, α-amilase merupakan enzim yang paling banyak menyebabkan reaksi alergi.
Reaksi alergi yang disebabkan oleh gandum merupakan reaksi yang diakibatkan oleh adanya protein reseptor yang dikenali oleh sistem imun (epitop). Protein gandum diklasifikasikan menurut kelarutannya. Albumin merupakan protein gandum yang larut dalam air, globulin larut dalam garam, gliadin larut dalam etanol dan glutenin yang larut dalam urea, deterjen atau KOH.
Beberapa reaksi alergi yang disebabkan oleh gandum adalah:
-          Celiac diseases yang disebabkan oleh dicernanya fraksi gliadin.
-          Asma yang terjadi akibat menghirup tepung terigu. Reaksi ini dikenal juga dengan nama Baker’s asthma yang telah lama dikenal sejak zaman Romawi. Reaksi ini dipicu oleh fraksi globulin yang merupakan inhibitor α-amilase.
-          Inflamasi kulit atau dermatitis atopik, hingga saat ini reaksi ini masih belum diketahui penyebabnya. Akan tetapi reaksi ini seringkali terjadi pada penderita alergi terhadap makanan, termasuk alergi terhadap gandum.
-          FDEIA (Food Dependent Exercise Induced Anaphylaxis) yang merupakan reaksi alergi yang terjadi karena menggerakkan badan/olahraga yang sebelumnya telah menkonsumsi suatu makanan tertentu. Reaksi ini disebabkan oleh fraksi gliadin.

Aplikasi enzim untuk mengurangi reaksi Alergi
Gandum atau terigu adalah salah satu biji-bijian yang sangat penting, khususnya untuk makanan. Berbagai macam tepung yang digunakan untuk pembuatan makanan merupakan turunan dari gandum dan telah dikonsumsi di seluruh dunia. Akan tetapi respon hipersensitif terhadap gandum merupakan masalah yang telah umum di negara industri.
Oleh karena itu, perlu adanya alternative lain sebagai pengganti gandum untuk bahan baku tepung. Salah satunya adalah dengan cara membuat tepung yang memiliki alergenisitas yang rendah (hipoalergenik).
Ide pembuatan tepung ini berdasarkan dari studi struktur epitop protein gandum. Pembuatan tepung dapat dilakukan dengan menghidrolisis ikatan peptide dari residu epitop yang dekat dengan proline. Selanjtnya dilakukan screening enzim yang memiliki aktivitas tinggi dalam menghidrolisis ikatan peptide di dekat proline. Enzim tersebut harus memiliki karakter dapat menurunkan aktivitas amilase dengan harapan dapat meminimalisir rasa manis, menurunnya potensi amilum dan menurunnya volume produk.
Dari hasil screening didapatkan dua jenis enzim yang memiliki kemampuan tinggi dalam hidrolisis ikatan peptide dengan menurunkan aktivitas amilase. Kedua enzyme tersebut adalah bromelain dan aktinase. Aktinase lebih dipilih karena bromelain dapat menyebabkan reaksi sensitif terhadap sebagian orang.
Dari hasil analisis, aktinase memiliki kemampuan yang rendah dalam menurunkan aktivitas alergenik, maka dalam proses enzimatik pembuatan tepung hipoalergenik juga digunakan enzim selulase. Enzim ini dapat mengurangi sifat alergen dari karbohidrat dan menurunkan aktivitas amilase. Selulase digunakan pada tahap pertama dari proses enzimatik untuk menghindari inaktivasinya oleh aktinase.
            Dengan adanya penelitian tentang alternatif tepung gandum yang memiliki alergenisitas yang lebih rendah daripada tepung gandum biasa, maka diharapkan kasus alergi karena mengkonsumsi makanan berbahan dasar tepung gandum dapat dikurangi.

Pustaka
Houba, R., P. van Run, G. Doekes, D. Heederik and J. Spithoven. 1997. Airborne levels of α-amylase allergens in bakeries. J Allergy Clin Immunol Vol. 99 No 3: 286-292.
James, J.M., J.P. Sixbey, R.M. Helm, G.A. Bannon and A.W. Burks. 1997. Wheat α-amylase inhibitor: A second route of allergic sensitization. J Allergy Clin Immunol Vol 99 No 2: 239-244.
Kamiyama, N., M. Hiemori, M. Kimoto, M. Suzuki, H. Yamashita, Y. Takahashi and H. Tsuji. 2009. Preparation and Epitope Mapping of a Monoclonal Antibody against Tri a Bd 27K, a Major Wheat Allergen. Biosci. Biotechnol. Biochem., 73 (9): 2113-2116.                                                                                    
Kobayashi, S., J. Watanabe, J. Kawabata, E. Fukushi and H. Shinmoto. 2004. A Novel Method for Producing a Foodstuff from Defatted Black Sesame Seed That Inhibits Allergen Absorption. Biosci. Biotechnol. Biochem., 68 (2): 300-305.
Kusaba-Nakayama, M., M. Ki, E. Kawada, M. Sato, I. Ikeda, T. Mochizuki and K. Imaizumi. 2001. Intestinal Absorbability of Wheat Allergens, Subunits of a Wheat α-amylase Inhibitor, Expressed by Bacteria. Biosci. Biotechnol. Biochem., 65 (11): 2448-2455.
Kusaba-Nakayama, M., M. Ki, M. Iwamoto, R. Shibata, M. Sato and K. Imaizumi. 2000. CM3, One of the Wheat α-Amylase Inhibitor for Subunits, and Binding of IgE in Sera from Japanese with Atopic Dermatitis Related to Wheat. Food and Chemical Toxicology 38: 179-185.
Tanabe, Soichi. 2008. Analysis of Food Allergen Structures and Development of Foods for Allergic Patients. Biosci. Biotechnol. Biochem., 72 (3): 649-659.
Tokuda, R., M. Nagao, Y. Hiraguchi, K. Hosoki, T. Matsuda, K. Kouno, E. Morita and T. Fujisawa. 2009. Antigen-Induced Expression of CD203c on Basophils Predicts IgE-mediated Wheat Allergy. Allergology International Vol 58 No 2: 193-199.
Watanabe, J., S. Tanabe, K. Sonoyama, M. Kuroda and M. Watanabe. 2001. IgE-reactive 60 kDa Glycoprotein Occuring in Wheat Fluor. Biosci. Biotechnol. Biochem., 65 (9): 2102-2105.
Watanabe, J., S. Tanabe, M. Watanabe, T. Kasai and K. Sonoyama. 2001. Consumption of Hypoallergenic Flour Prevents Gluten-induced Airway Inflammation in Brown Norway Rats. Biosci. Biotechnol. Biochem., 65 (8): 1729-1735.