Tampilkan postingan dengan label ikhwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikhwah. Tampilkan semua postingan

Februari 26, 2012

Bingkisan dari Langit

Sebuah perpisahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.ivanjaya.net
Sabtu kemarin, tertanggal 25 Februari 2012 ternyata menjadi arisan terakhir kami untuk formasi ber-sebelas kami. Tak menyangka itu yang terakhir walaupun sempat terwacanakan sebulan yang lalu. Secepat inikah kebersamaan mesra ini? ivanjaya.net
Untuk yang terakhir ini, seperti sebelum dan yang lainnya. Acara diwarnai dengan tukar kado yang harus dibarengi dengan pesan ukhuwah untuk yang menerima ivanjaya.net. Nah pesan-pesan ini kemudian kami baca satu-persatu ivanjaya.net. Subhanallah, tak peduli apakah pesan itu memang terangkai sendiri ataukah disadur dari berbagai sumber, membaca dan mendengarnya saja sudah cukup mewakili rasa-rasa yang kami miliki ivanjaya.net. Rasa yang tumbuh berkembang dengan kebersamaan, rasa yang terus dan senantiasa ada karena memiliki azzam yang sama.
Pun demikian halnya dengan bingkisan kecilnya. Bukan jenis dan harga dari isi bingkisannya, atau pun bentuk dan bungkusnya......tapi makna rasa sang pemberi itulah intinya ivanjaya.net.
Untukku, kudapatkan bingkisan indah yang tak disangka :waaah:. This is it......

warna talenannya cantik senyum

Allah Maha Tahu, beberapa hari lalu sempat ivanjaya.net membeli talenan karena talenan di dapur sudah tak layak pakai (menurutku....ivanjaya.net) dan mesti antri pakai. Dan, Ia pun mengijabah lintasan fikiran itu melalui saudariku. Subhanallah, skenario yang indah ivanjaya.net.
Kini, aku pun ivanjaya.net. Benarlah adanya nasihat bijak itu; "berhati-hatilah dengan lintasan fikiran yang terbersit di hati karena kita tidak pernah tahu kapan waktu terijabahnya dan malaikat meng-amin-kannya". Dan alangkah sayangnya ivanjaya.net jika kemudian saat itu lintasan fikiran yang terijabah berupa fikiran tentang pesimisme dan prasangka-prasangka buruk. Dan bukankah Allah senantiasa memperturutkan persangkaan hambaNya? ivanjaya.net
Sekali lagi mendapat ibrah dari bingkisan talenan. ivanjaya.net
Segala Puji bagiMu Yaa Rabb untuk bingkisan indah, pun jua untuk saudariku....insyaAllah bingkisanmu amat sangat bermanfaat. ivanjaya.net
pesan ukhuwah dari saudariku..... senyumkenyit


Februari 08, 2012

Belajar dari Burung Hud-hud

Kita mungkin sudah tidak asing dengan burung hud-hud. Burung ini adalah salah satu burung yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang terdapat dalam kisah nabi Sulaiman as. Di dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang burung hud-hud yang melakukan pengintaian terhadap suatu kaum yang kemudian hasil pengintaian ini ia sampaikan kepada nabi Sulaiman as. selaku pemimpinnya. Berdasarkan kabar yang disampaikan oleh si burung, maka dakwah terhadap kaum tersebut dapat dilakukan. Allah berfirman:
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia dating kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (An-Naml 20-23)
Inti cerita tentang keterlambatan burung hud-hud tersebut di atas adalah:
Keterlambatan burung hud-hud dalam pertemuan tersebut dikarenakan kerja dakwah yang dilakukannya tanpa adanya perintah dari sang nabi (mengintai negeri Saba’ red.) yang kemudian hasil pengintaian itu menjadi perantara suatu kaum mendapat hidayah Allah. Akan tetapi tindakan yang dilakukan burung hud-hud tidak dapat dijadikan alasan bekerja di luar kendali (tasayyub). Tindakan yang dilakukan burung hud-hud karena ia mengetahui kondisi yang merupakan peluang dakwah.
Burung hud-hud tidak keluar dari tujuan jama’ah dan sarananya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama. Kisah ini menunjukkan pada diri burung hud-hud terdapat jiwa yang sadar misi (yaqzhah), teliti dalam beramal (diqqah) dan semangat untuk berdakwah. Selain pelajaran mengenai sikap seorang jundi dakwah, kisah ini juga menggambarkan sikap yang dimiliki nabi Sulaiman selaku pemimpin (qiyadah) yang memiliki sikap kontrol dan ketegasan dalam menyelesaikan persoalan anggotanya sekecil apapun persoalan tersebut dan dilakukan oleh anggota serendah apapun jenjangnya.
Kisah ini banyak mengandung ibrah untuk para aktivis dakwah apapun posisinya, di antaranya:
1. Inisiatif, seorang aktivis dakwah hendaklah memiliki inisiatif tanpa adanya perintah dalam menjalankan tugas dakwah. Ia memanfaatkan keberadaan dirinya di suatu tempat sebagai peluang untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang lain (dakwah red.)
2. Tidak semua rencana/planning akan berjalan dengan lancar dan dapat dimutaba’ahi, karena itu pengarahan terhadap semua perintah dan kebijakan adalah lebih diutamakan.
3. Adanya pengecekan terhadap keterlambatan burung hud-hud berikut dengan alasannya. Dan pemimpin pun menerima alasan tersebut setelah dilakukan pengecekan, dan membatalkan hukuman yang telah dijanjikan karena alasan yang dikemukakan bernilai kebenaran.
4. I’tidzar lil qa’id fi ada’il wajib. Dalam kisah ini kita dapat melihat bahwa dalam pemaafan (ma’dzirah) dan menyampaikan alasan (i’tidzar) terdapat sesuatu yang berharga ketika pengetahuan burung hud-hud memberikan manfaat kepada pemimpin. Kemampuan dalam menyampaikan berita yang penting dan besar dan taat kepada pemimpin dengan mennjawab alasan keterlambatan dengan hal yang lebih penting.
5. Pentingnya kehadiran secara da’wiyan dan tarbawiyan, bukan hanya kehadiran di halaqah atau di usrah atau di ijtima’. Hendaknya kita senantiasa hadir dalam setiap aktivitas dakwah dan tarbiyah. Maka, di sinilah peran seorang qiyadah/pemimpin/murabbi/mas’ul dalam mengontrol dan memperhatikan kehadiran binaannya dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah.
6. Hendaknya pemimpin tidak cuek. Dalam kisah ini nabi Sulaiman selaku pemimpin bersikap:
a. Merasa kehilangan terhadap pengikutnya (tafaqqudul amiir lil atba’).
Adanya perhatian terhadap kehadiran orang-orang yang dipimpinnya merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diemban. Sikap ini juga dapat membangkitkan perasaan dibutuhkan dari seorang jundi oleh pemimpinnya, sehingga dapat membangkitkan semangat mereka.
b. Sangat perhatian terhadap perkara (akhdzul amri bil hazm). 
Seorang pemimpin harus memiliki wibawa di hadapan pengikutnya dengan bersikap tegas, bahkan dalam perkara yang kecil sekalipun.
c. Evaluasi (muhasabah). 
Hendaklah seorang pemimpin memiliki inisiatif untuk mengevaluasi proses tarbiyah dan hasil perjalanan tarbiyah yang telah ia lakukan.
d. Klarifikasi uzur (tabayyunul ‘udzr). 
Klarifikasi alasan keuzuran binaan dilakukan agar penyikapan dan perlakuan yang akan diambil lebih berdampak positif.
e. Menghargai masing-masing anggota (taqdir kulli udhwin). 
Seorang anggota, betapapun kondisinya harus dihargai sebagai anggota dan tidak boleh dipandang sebelah mata.
7. Kerja yang kecil juga dapat melahirkan hal yang besar. Seperti halnya kerja pengintaian burung hud-hud yang hanya sekedar menghasilkan informasi keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar yakni keislaman seluruh negeri Saba’.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah si burung hud-hud di dalam Al-Qur’an dalam bekerja dan berkontribusi di aktivitas dakwiyah dan tarbawiyah.


(Materi Kajian KTP UGM)

April 03, 2011

Farewell Gathering HIMMPAS UGM [Januari 2011]

Setelah Musyawarah Akbar HIMMPAS X berlalu, ternyata masih ada agenda besar untuk mempertemukan pengurus lama (HIMMPAS X) dengan pengurus baru (HIMMPAS XI). Acara ini diberi judul "Farewell Gathering HIMMPAS" (yaah...kurang lebih begitu lah..... ^^v ).

Halaman depan Kebun Buah Mangunan. Sebelum melewati pintu masuk, bis kami melewati deretan pohon durian yang tertata rapi ^^d
Iseng kujepret papan nama yang tergantung di dinding bangunan terbuka semacam pelataran tempat berkumpul ^^"

Acara ini mengambil tempat di kebun buah  Mangunan, Imogiri, kabupaten Bantul, DIY. Seperti biasa, acaranya tak jauh-jauh dari sesi "narsisus ria".

  
Pembukaan sekaligus sambutan dari Mr. Adi Suhendra sang Ketua Umum HIMMPAS X

Setelah para peserta menapakkan kaki di areal kebun buah, acara dibuka oleh Ketua HIMMPAS X Mr. Adi Suhendra, S. Hut dan dipandu oleh Sekretaris Umum HIMMPAS X yang sekaligus sebagai Ketua Panitia acara ini Mr. Nurdin Riyanto, ST (hehehe....tenang, bukan Nurdin yang Ketua Organisasi Olahraga itu lho!!! ^^" ). Omong-omong, Mr. Adi kok resmi banget yak??? hohoho.........iya dong, lha....katanya ntar tu ada acara futret-futretan (pake seragam HIMMPAS angkatan X dunks >>> itu tu yang warna biru tua plus abu-abu itu lho!!). ^___^

Peserta akhwat (yg sadar kamera emang member of genk narsis.....hehehe ^^v )
Dan...sebagai penutup, perkenalkan Ketua HIMMPAS XI >>>

Ketua HIMMPAS XI (he.....saya lupa namanya. Kalau tidak salah Mr. Abdul Latif ^^" )
Baiklah, buat teman-teman yang tidak ikut meramaikan acara Farewell Gathering HIMMPAS, terakhir kupersembahkan gambar lansekap yang sempat kuabadikan. hehehe....kali aja jadi mupeng pengen maen ke kebun buah Mangunan ^^v

Lansekap yang kami temui setelah mendaki dan melewati jalan setapak di antara rimbunan puun-puun ^__^ 


Lihatlah aktivitas yang terabadikan di gambar ini >> tak jauh-jauh dari ber-narcis ria. hohoho...... No Exist Without Narcis dab.....

April 02, 2011

Musyawarah Akbar XI HIMMPAS UGM

Setelah mengemban amanah selama hampir setahun di Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) UGM, maka dengan terselenggarakannya Musyawarah Akbar HIMMPAS di tahun 2010 pada tanggal 24-25 Desember berakhirlah masa kepengurusan HIMMPAS X.

Inilah wajah para HIMMPASer X yang tengah menunggu eksekusi pertanggungjawaban selama kepengurusan di tahun 2011.

Jika di dalam ruang musyawarah para peserta sibuk berdiskusi, maka di luar sibuk mengabadikan eksistensi ^^".
Sedih rasanya karena tak semua personil bisa ikut meramaikan musyawarah kali ini, tapi semoga masih ada kesempatan untuk berkumpul kembali dengan "lebih lengkap".

Rekan-rekan HIMMPASer X, terima kasih atas kerjasamanya selama ini dan terima kasih pula untuk ukhuwah yang terjalin antara kita. 
Jangan lupa untuk mengagendakan reunian ya.... ^^v


[dedicated to HIMMPASer X UGM]

Oktober 22, 2010

Salamatush Shadr (LAPANG DADA)


               Kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak delapan kali dalam  Al-Quran. Kata ini pada mulanya berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada. Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.
          Apabila kamu memaafkan,dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (at-Thaghabun: 14).
          Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (an-Nur: 22) .
          Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (al-Maidah: l3).
          Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah:109).
               Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani  menyatakan bahwa  al-shafh lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan ini dapat dipahami dengan sebuah analogi. Seperti dikemukakan terdahulu dari kata  al-shafh lahirlah shafhat yang berarti halaman.  Jika kita memiliki selembar kertas yang ditulisi suatu kesalahan dan kesalahan itu ditulis dengan pensil, maka kita akan menngunakan penghapus karet untuk menghapusnya. Demikianlah halnya ketika Anda melakukan 'afw (memberi maaf).  Seandainya kesalahan itu ditulis dengan tinta, tentu kita akan menghapusnya dengan tip-ex agar tidak terlihat lagi. Akan tetapi, walaupun kita telah berusaha menghapus kesalahan tersebut, tentunya lembaran tersebut tidak lagi sama sepenuhnya dengan lembaran baru bahkan lembaran itu mungkin menjadi lebih lusuh dari sebelumnya. Di sinilah letak perbedaan antara al-shafh yang mengandung arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut seseorang untuk membuka lembaran baru sehingga sedikit pun hubungan tidak ternodai, tidak kusut, dan tidak seperti lembaran yang telah dihapus kesalahannya. Mushafahat (jabat tangan) adalah lambang kesediaan seseorang untuk membuka lembaran baru, dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama. Sebab, walaupun kesalahan telah dihapus, terkadang masih saja ada kekusutan masalah.  
               Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena tidak mungkin membuka lembaran baru dengan membiarkan lembar yang telah ada  kesalahannya  tanpa  terhapus.  Itu sebabnya ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi tidak didahului oleh perintah memberi maaf, dirangkaikan dengan jamil yang berarti indah. Selain itu, al-shafh juga dirangkaikan dengan perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak.
          Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik (al-Hijr:85)
          Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan salam/kedamaian (az-Zukhruf:84).
Lapang dada dalam Amal Jama’i
               Salamatush shadr adalah kita dapat berlapang dada menerima kesalahan maupun suatu hal yang tidak kita setujui. Oleh karena itu, sikap ini saat diperlukan dalam aktivitas beramal jama’i karena tidak menutup kemungkinan adanya keputusan yang tidak kita sukai tapi merupakan keputusan bersama (jama’ah). Akan tetapi, dalam hal ini tidak cukup sampai dengan berlapang dada dalam menerima keputusan. Kita juga harus bisa berlapang dada dalam menjalankan keputusan tersebut demi terlaksananya kerja-kerja jama’ah dan tercapainya tujuan bersama.
               Jika salamatush shadr memiliki tingkatan lebih tinggi dari memaafkan, maka setelahnya masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi yakni “Itsar”. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai.

Wahai orang yang berfikir tentang ketentraman dan kedamaian bumi ini....
Pahamilah masalah ini dengan cermat...
Kembalilah kepada Islam...
Ya Allah, saksikanlah...
Sesungguhnya aku telah menyampaikan... (Hasan Al-Banna)

Maraji’
Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Qur’an.
Catatan pribadi

Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal “Kerusakan dan Penderitaan Umat Manusia Saat Ini”


Air adalah materi(benda) yang jika ia bergerak dan terus mengalir, maka ia menjadi air yang sangat bermanfaat dan segar. Sedangkan jika ia ditempatkan dalam suatu wadah, dibendung dan tidak bergerak, maka lama-kelamaan air tersebut akan menjadi air yang tidak sehat dan berbau (busuk). Manusia pun bagaikan air yang memiliki dua pilihan dalam hidup, yakni diam atau bergerak. Diam tanpa melakukan aktivitas apapun dan menjadi manusia yang tidak berdaya guna. Atau bergerak, dan memperbanyak manfaat diri untuk yang lain. Pilihan bergerak ini pun selanjutnya memiliki dua opsi, apakah bergerak di jalan benar yang diridhoi oleh Allah ataukah bergerak di jalan yang sesat. Semua itu adalah pilihan yang harus kita ambil dan jalani. Dan sesungguhnya, memilih untuk diam akan membawa manusia ke kebinasaan. Sedangkan memilih untuk bergerak, dan jalan yang ditempuh adalah jalan yang tidak diridhoi Allah, maka pilihan ini pun memiliki resiko yang sama. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
ﻭﺍﻥﺗﺘﻮﻟﻮﺍﻳﺴﺘﺒﺪﻝﻗﻮﻣﺎﻏﻴﺮﻛﻢﺛﻢﻻﻳﻜﻮﻧﻮﺍﺃﻣﺜﺎﻟﻜﻢ ….
”....Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu ”(Muhammad: 38)

Sekarang ini umat manusia tengah dilanda berbagai kerusakan dan berada dalam kondisi yang kacau. Kondisi sekarang ini sama dengan kondisi umat manusia pada zaman Rasulullah SAW. Akan tetapi, bedanya adalah di zaman ini sudah tidak ada lagi Rasul yang akan mengemban tugas untuk memperbaiki umat manusia. Jadi, menjadi tugas kitalah sebagai penyambung lidah para anbiya’. Tugas ini bukanlah tugas yang ringan, sehingga tidak semua orang dapat menjalaninya. Dan jika sudah tidak ada lagi manusia yang mampu mengemban tugas ini, maka ketika kerusakan sudah merajalela dan tidak ada lagi kebaikan itulah akhir dari dunia (kiamat). Pada saat itu, umat manusia yang tersisa berasal dari dua golongan. Golongan pertama yakni golongan yang mendustai Islam dan senantiasa berbuat kerusakan. Sedangkan, golongan kedua adalah mereka yang ragu-ragu dalam menjalani keIslamannya.
Beberapa tanda kerusakan yang terjadi adalah:
  1. Kerusakan dalam bidang hukum dan politik
Kerusakan ini dikarenakan manusia telah jauh meninggalkan Al-Qur’an dan berhukum tidak dengan Al-Qur’an, melainkan dari hukum yang dibuat manusia. Bahkan, manusia pun telah berani membuat kitab tandingan Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:  
                                                     ﻮﺇﻧﻬﻢﻟﻴﺼﺪﻭﻧﻬﻢﻋﻦﺍﻟﺴﺒﻴﻞﻭﻳﺤﺴﺒﻮﻥﺃﻧﻬﻢﻣﺤﺘﺪﻭﻥ()ﻭﻣﻦﻳﻌﺶﻋﻦﺫﻛﺮﺍﻟﺮﺣﻤﻦﻧﻘﻴﺾﻟﻪﺷﻴﻄﻨﺎﻓﻬﻮﻟﻪﻗﺮﻳﻦ
“Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (Az-Zukhruf: 36-37).

Adanya paham sekuler pun menjadi pemicu kerusakan dalam bidang pemerintahan. Salah satu contohnya adalah Mesir. Negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, tapi sistem pemerintahannya menganut sistem pemerintahan Barat yang notabene jauh dari nilai keislaman. Kasus terparah berasal dari Turki. Setelah runtuhnya Daulah Turki Utsmany, dengan mengatasnamakan demokrasi sekulerisme menancap kuat dalam sistem pemerintahannya. Salah satu bentuknya adalah dengan pelarangan membawa simbol-simbol keagamaan (mis. jilbab) dalam bidang pemerintahan.
  1. Kerusakan dalam bidang sosial
Dalam bidang sosial, kerusakan yang paling terasa dampaknya adalah akibat dari terlalu mengagung-agungkan manusia. Banyak kita dapati para penganut humanisme (faham yang mengagungkan manusia) yang dengan mengatasnamakan hak asasi manusia berbuat sekehendak hatinya tanpa memperhatikan norma-norma, khususnya norma agama. Atas nama hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi akhirnya pornografi dan pornoaksi yang berbalut seni menjadi masalah yang terus melanda negeri ini. Sebagai wujud emansipasi wanita, kaum perempuan yang selayaknya menjaga kehormatannya malah menjadi garda terdepan pembela budak syahwat. Mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka tengah dieksploitasi dan direndahkan. Jika sudah demikian, sangat sulit untuk mengharapkan akan lahirnya generasi yang berkualitas dari mereka yang tidak pernah mau menghormati dirinya sendiri.
Semua itu tak pernah lepas dari rekayasa orang-orang yang memang tidak pernah menginginkan kebaikan di dunia. Untuk menghancurkan musuh mereka (Islam red.), mereka merancang suatu pemikiran yang bahkan mereka pun sangat anti dengan pemikiran tersebut. Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme (SEPILIS) adalah salah satu bentuk pengaburan terhadap agama (Islam red.), sehingga akan menimbulkan keragu-raguan bagi mereka yang pengetahuan agamanya lemah. Hal ini pun didukung dengan kurangnya pendidikan agama sejak dini. Bahkan, lahirnya berbagai aliran menyimpang yang menjauhkan umat Islam dari agamanya adalah bagian dari konspirasi mereka.
  Di bidang Ekonomi, mereka membentuk bank yang menerapkan sistem bunga yang sangat merugikan dan tidak sesuai dengan hukum Islam. Mereka memonopoli perdagangan dan  mengeksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan pribadi.
Mereka juga merusak bahasa, khususnya bahasa Arab dengan menciptakan bahasa Arab ’ammiyah dengan tujuan untuk merusak bahasa Arab fusha (bahasa arab Al-Qur’an). Jadi, secara tidak langsung untuk merusak Al-Qur’an dan hadits agar umat Islam meragukannya dan jauh dari keduanya. Selain itu, mereka juga berusaha merusak sejarah dengan meragukan sahabat, bahkan para nabi.
Melalui pendidikan mereka mengembangkan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan, akan tetapi pada dasarnya menyesatkan. Salah satunya adalah nasionalisme. Nasionalisme yang mereka ajarkan adalah nasionalisme sempit yang terbatas pada teritorial, bangsa, ras dll. Hal ini kemudian memunculkan adanya Islam Arab, Islam Mesir, Islam Eropa, Islam Indonesia dll. Padahal dalam Islam, nasionalisme tidak terbatas pada teritori, ras, suku, bahasa dll. Dalam Islam, di mana asma Allah diagungkan dan di mana terdapat muslim yang tinggal maka daerah itu adalah wilayah Islam. Persaudaraan dalam Islam tidak terbatas oleh kesamaan warna kulit, negara dan bahasa. Akan tetapi, setiap yang meyakini bahwa Allah itu Esa dan Muhammad adalah Rasul-Nya, maka dia adalah saudara dan wajib untuk dibela. Dengan paham nasionalisme ini, musuh-musuh Islam tersebut telah mampu memecah-belah umat Islam.
Wahai orang yang berfikir tentang ketentraman dan kedamaian bumi ini....
Pahamilah masalah ini dengan cermat...
Kembalilah kepada Islam...
Ya Allah, saksikanlah...
Sesungguhnya aku telah menyampaikan... (Hasan Al-Banna)

Maraji’:
Ancaman Global Freemasonry oleh Harun Yahya, Dzikra
Knight Templar oleh Rizky Ridyasmara, Pustaka Al-Kautsar
Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal oleh Dr. Shadiq Amin, Fitrah Rabbani
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin oleh Hasan Al-Banna, Era Intermedia

Oktober 18, 2010

Forum Keluarga HIMMPAS 2010

Click to play this Smilebox slideshow
Create your own slideshow - Powered by Smilebox
This picture slideshow made with Smilebox

mencoba berkreasi dengan kumpulan file-file foto kegiatan...hem, need ur comment ^^d
sebenarnya urutan foto ini terbalik....(hehe....males ngeditnya lagi)
pokoknya ini yang pertama dan insyaAllah jika ada waktu saya masih ingin mengunggah beberapa hasil kreasi saya yang lainnya....
enjoy ur visiting.... ^____^