Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Februari 08, 2012

Belajar dari Burung Hud-hud

Kita mungkin sudah tidak asing dengan burung hud-hud. Burung ini adalah salah satu burung yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang terdapat dalam kisah nabi Sulaiman as. Di dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang burung hud-hud yang melakukan pengintaian terhadap suatu kaum yang kemudian hasil pengintaian ini ia sampaikan kepada nabi Sulaiman as. selaku pemimpinnya. Berdasarkan kabar yang disampaikan oleh si burung, maka dakwah terhadap kaum tersebut dapat dilakukan. Allah berfirman:
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia dating kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (An-Naml 20-23)
Inti cerita tentang keterlambatan burung hud-hud tersebut di atas adalah:
Keterlambatan burung hud-hud dalam pertemuan tersebut dikarenakan kerja dakwah yang dilakukannya tanpa adanya perintah dari sang nabi (mengintai negeri Saba’ red.) yang kemudian hasil pengintaian itu menjadi perantara suatu kaum mendapat hidayah Allah. Akan tetapi tindakan yang dilakukan burung hud-hud tidak dapat dijadikan alasan bekerja di luar kendali (tasayyub). Tindakan yang dilakukan burung hud-hud karena ia mengetahui kondisi yang merupakan peluang dakwah.
Burung hud-hud tidak keluar dari tujuan jama’ah dan sarananya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama. Kisah ini menunjukkan pada diri burung hud-hud terdapat jiwa yang sadar misi (yaqzhah), teliti dalam beramal (diqqah) dan semangat untuk berdakwah. Selain pelajaran mengenai sikap seorang jundi dakwah, kisah ini juga menggambarkan sikap yang dimiliki nabi Sulaiman selaku pemimpin (qiyadah) yang memiliki sikap kontrol dan ketegasan dalam menyelesaikan persoalan anggotanya sekecil apapun persoalan tersebut dan dilakukan oleh anggota serendah apapun jenjangnya.
Kisah ini banyak mengandung ibrah untuk para aktivis dakwah apapun posisinya, di antaranya:
1. Inisiatif, seorang aktivis dakwah hendaklah memiliki inisiatif tanpa adanya perintah dalam menjalankan tugas dakwah. Ia memanfaatkan keberadaan dirinya di suatu tempat sebagai peluang untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang lain (dakwah red.)
2. Tidak semua rencana/planning akan berjalan dengan lancar dan dapat dimutaba’ahi, karena itu pengarahan terhadap semua perintah dan kebijakan adalah lebih diutamakan.
3. Adanya pengecekan terhadap keterlambatan burung hud-hud berikut dengan alasannya. Dan pemimpin pun menerima alasan tersebut setelah dilakukan pengecekan, dan membatalkan hukuman yang telah dijanjikan karena alasan yang dikemukakan bernilai kebenaran.
4. I’tidzar lil qa’id fi ada’il wajib. Dalam kisah ini kita dapat melihat bahwa dalam pemaafan (ma’dzirah) dan menyampaikan alasan (i’tidzar) terdapat sesuatu yang berharga ketika pengetahuan burung hud-hud memberikan manfaat kepada pemimpin. Kemampuan dalam menyampaikan berita yang penting dan besar dan taat kepada pemimpin dengan mennjawab alasan keterlambatan dengan hal yang lebih penting.
5. Pentingnya kehadiran secara da’wiyan dan tarbawiyan, bukan hanya kehadiran di halaqah atau di usrah atau di ijtima’. Hendaknya kita senantiasa hadir dalam setiap aktivitas dakwah dan tarbiyah. Maka, di sinilah peran seorang qiyadah/pemimpin/murabbi/mas’ul dalam mengontrol dan memperhatikan kehadiran binaannya dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah.
6. Hendaknya pemimpin tidak cuek. Dalam kisah ini nabi Sulaiman selaku pemimpin bersikap:
a. Merasa kehilangan terhadap pengikutnya (tafaqqudul amiir lil atba’).
Adanya perhatian terhadap kehadiran orang-orang yang dipimpinnya merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diemban. Sikap ini juga dapat membangkitkan perasaan dibutuhkan dari seorang jundi oleh pemimpinnya, sehingga dapat membangkitkan semangat mereka.
b. Sangat perhatian terhadap perkara (akhdzul amri bil hazm). 
Seorang pemimpin harus memiliki wibawa di hadapan pengikutnya dengan bersikap tegas, bahkan dalam perkara yang kecil sekalipun.
c. Evaluasi (muhasabah). 
Hendaklah seorang pemimpin memiliki inisiatif untuk mengevaluasi proses tarbiyah dan hasil perjalanan tarbiyah yang telah ia lakukan.
d. Klarifikasi uzur (tabayyunul ‘udzr). 
Klarifikasi alasan keuzuran binaan dilakukan agar penyikapan dan perlakuan yang akan diambil lebih berdampak positif.
e. Menghargai masing-masing anggota (taqdir kulli udhwin). 
Seorang anggota, betapapun kondisinya harus dihargai sebagai anggota dan tidak boleh dipandang sebelah mata.
7. Kerja yang kecil juga dapat melahirkan hal yang besar. Seperti halnya kerja pengintaian burung hud-hud yang hanya sekedar menghasilkan informasi keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar yakni keislaman seluruh negeri Saba’.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah si burung hud-hud di dalam Al-Qur’an dalam bekerja dan berkontribusi di aktivitas dakwiyah dan tarbawiyah.


(Materi Kajian KTP UGM)

Perangkat-Perangkat Tarbiyah


Sesuai dengan data yang diambil dari sejarah Jamaah, perangkat-perangkat khusus yang dipergunakan Jamaah dalam mentarbiyah anggota-anggotanya antara lain: Usrah, Katibah, Rihlah (Refreshing), Mukhayyam, Daurah, Nadwah dan Muktamar. Melalui perangkat-perangkat tarbiyah ini dakwah berjalan dan terus berkembang.

Perangkat yang pertama, Usrah. Usrah dalam hal ini didefinisikan sebagai perisai, ia seperti keluarga dan kerabat. Usrah juga merupakan kumpulan orang-orang yang terikat oleh kepentingan yang sama, yakni: bekerja, mentarbiyah, dan mempersiapkan kekuatan untuk Islam.
Tujuan usrah secara umum adalah membentuk kepribadian islami secara integral pada setiap individu muslim, mentarbiyah, dan mengembangkannya sesuai etika dan nilai islam. Aspek kepribadian yang penting adalah aqidah, ibadah, moral,dan wawasan pengetahuan. Usrah yang baik adalah usrah yang produktif yang banyak melahirkan kader calon naqib ( murobi atau pemimpin usrah).
Rukun-rukun usrah:
- Ta aruf (saling mengenal)
- Tafahum (saling memahami)
- Takaful (saling menanggung beban)

Kedua, Katibah. Katibah berarti sesuatu yang dihimpun dan tidak berserakan atau dapat berarti juga pasukan atau satuan raksasa atau satu grup besar dari sebuah pasukan yang terdiri dari beberapa grup ekspedisi yang tidak permanen.
Merupakan pola spesifik dalam mentarbiyah sekolompok anggota yang bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik beserta seluruh anggota badan  untuk melaksanakan ibadah secara umum, juga tahajud, dzikir, tadabur, dan berpikir kritis.
Dalam jamaah ikhwah, katibah berarti kumpulan beberapa usrah. Setiap katibah harus selesai programnya dalam  40 pekan atau 40 kali pertemuan. Tujuan katibah secara umum adalah menciptakan keharmoniann bangunan kepribadian islam yang utuh pada seseorang, dekat dengan Allah, taat kepada-Nya.

Ketiga, Rihlah. Rihlah adalah perangkat tarbiyah yang lebih mencurahkan perhatiannya kepada aspek fisik, baik individu maupun kelompok.
Di dalam rihlah para peserta diberi kebebasan bergerak, berolah raga, berlatih, bersabar untuk bekerja secara sungguh-sungguh, serta menahan rasa haus dan lapar dengan kadar yang tidak mungkin diperoleh dalam pertemuan usrah, tidak juga katibah.
Dilihat dari tipe peserta, ada beberapa macam rihlah:
  1. Rihlah para aktivis
  2. Rihlah keluarga ikhwah
  3. Rihlah putra ikhwah
  4. Rihlah putri ikhwah
  5. Rihlah da’i ikhwah

Keempat, Mukhayyam. Merupakan penerapan dan pengembangan dari sistem jaulah yaitu sistem jaulah merupakan pengembangan dari sistem rihlah. Dalam tarbiyah, sistem mukhayam tumbuh sebagai penyempurnaan misi jawalah untuk menghidupkan terus kehidupan jawalah secara nyata. Tujuan Mukhayam secara umum ada tiga pokok:
  1. Pengumpulan, meliputi pengumpulan tingkat kaum muslim secara umum, tingkat  aktivis ikhwah dari berbagai usrah, tingkat para pemimpin ikhwah, hingga tingkat internasional.
  2. Tarbiyah. Memberi celupan kehidupan pribadi peserta dengan celupan islam.
  3. Latihan. Melatih interaksi, fisik, tanggung jawab, manajemen mukhayam melatih menjaga kerahasiaan, dan sebagainya.
Mukhayam lahir dengan urgensi ketarbiyahan yang tidak tergantikan oleh perangkat-perangkat tarbiyah Ikhwaniyah selainnya.

Kelima, Daurah. Daurah atau pelatihan merupakan aktivitas berkala, yakni dilaksanakan pada setiap waktu tertentu secara rutin dalam bentuk pengumpulan kader-kader dakwah yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, penelitian dan pelatihan tentang suatu masalah, dengan mengangkat tema tertentu yang dianggap penting bagi keberlangsungan amal islam.
Daurah adalah forum untuk studi intensif suatu tema, baik berupa kajian ilmiah maupun pelatihan yang dimaksudkan agar peserta memiliki pengetahuan mendalam dan seoptimal yang mungkin diperoleh melalui asuhan para ulama dan spesialis.
Contohnya daurah manajemen, daurah dakwah fardiyah, dan daurah fikih dakwah. Setiap daurah harus mampu mewujudkan tujuan umumnya, kemudian mewujudkan target khusus sesuai dengan tema daurah yang diselenggarakan

Keenam, Nadwah. Nadwah berarti sekumpulan orang. Suatu majelis yang mengundang banyak orang untuk berkumpul. Nadwah berarti sebuah pertemuan yang menghimpun sejumlah pakar dan spesialis untuk mengkaji suatu tema ilmiah atau persoalan, setiap orang memberi pendapatnya dengan argumentasi dan bukti-bukti.
Orang yang diundang tidak harus dari kalangan ikhwah, bisa praktisi, ulama, pakar, dan spesialis untuk mengkaji suatu persoalan. Sasaran nadwah adalah pengetahuan dan wawasan pemikiran.

Ketujuh, Muktamar. Secara bahasa muktamar diartikan sebagai makanul i’timar (tempat musyawarah) dan dalam hal ini Ikhwanul Muslimin membaginya dalam dua bagian yaitu muktamar resmi (istilah ini dikhususkan untuk forum resmi yang memiliki kepentingan tertentu dalam aspek tujuan dan produk-produk yang dihasilkan seperti; ratifikasi perjanjian atau dokumen) dan muktamar umum (istilah ini ditujukan untuk menampung sejumlah peserta yang kadang-kadang hingga ratusan yang bersifat terbuka bagi semua organisasi atau individu).
Selain itu ada muktamar khusus jamaah khusus bagi anggota ikhwah yang diselenggarakan oleh jamaah ikhwah. Kelebihan muktamar adalah mampu menampung sejumlah besar pakar, terlibat dalam pembahasan dan kajian. Peserta yang ikut, terlibat dalam diskusi dan dialog dengan seluruh anggota muktamar.

Ketujuh perangkat tarbiyah diatas memiliki tujuan-tujuan umum dan khusus serta dilaksanakan dengan manajemen yang berbeda. Ada syarat- syarat menjadi pelaksana dalam setiap kegiatannya serta syarat pemimpin yang bertanggung jawab pada setiap perangkat tarbiyah. Ketujuh perangkat tarbiyah ini merupakan sarana dan jalan menuju kesuksesan dan pencapaian dakwah yang hakiki dan sadar atau tidak harus diakui bahwa perangkat tarbiyah adalah piranti yang dapat menentukan kesuksesan dakwah di kemudian hari nantinya.

November 13, 2010

DA'WAH ISLAMIYAH

Tugas terbesar umat Islam ialah memimpin dunia, mengajar seluruh kemanusiaan kepada sistem Islam, membimbing kepada cara hidup Islam, kepada ajaran yang baik, karena tanpa Islam manusia tidak mungkin mendapat bahagia1. tugas ini tidak lain adalah da’wah.
Da’wah ini bukan tugas juz’iyah yang membatasi amal hanya pada satu aspek saja serta mengabaikan aspek lainnya dalam mencapai tujuan2, dan bukan pula tugas sampingan. Bukan tugas yang hanya mencapai tujuan terbatas dalam aspek politik, sosial dan ekonomi saja.  Tugas ini pun tidak terbatas pada suatu daerah tertentu dan pada suatu bangsa tertentu. Akan tetapi, tugas ini merupakan tugas yang meliputi segenap sisi kehidupan, demi kebaikan seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk Allah.
Melihat besarnya manfaat dan luasnya ruang lingkup kerja da’wah, maka tugas ini bukanlah tugas yang ringan. Oleh karena itu, membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam memikul beban berat. Da’wah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan adalah usaha yang terus menerus dan hasilnya terserah kepada Allah, sesuai dengan waktu yang dikehendaki-Nya. Jadi, seorang da’i mungkin tidak akan melihat hasil da’wahnya sewaktu hidup di dunia.
Sebaliknya, para da’i yang berjuang di jalan Allah akan menemui berbagai gangguan dan penyiksaan dari golongan yang tidak menyukai akan tegaknya kebenaran dan musuh-musuh Allah yang akan menghapuskan mereka, memusnahkan da’wah mereka, atau pun menghalangi mereka untuk tetap di jalan-Nya. Hal ini adalah biasa bagi orang yang berjuang menegakkan kebenaran dan hal ini pun terus berulang di setiap zaman. Sehingga pentingnya seorang da’i untuk bersikap sabar dan senantiasa memohon pertolongan Allah swt.
Setelah Islam mengalami kemunduran sejak runtuhnya kekhalifahan Turki Usmani, kini Islam mulai bangkit dengan lahirnya berbagai gerakan da’wah di seluruh penjuru dunia. Kebangkitan Islam kembali dan arus da’wah Islam menjalar di kalangan generasi baru, para pemuda Islam.
Terdapat banyak persamaan antara marhalah-marhalah da’wah yang dihayati oleh da’wah Islam sekarang ini dengan marhalah-marhalah pada permulaan da’wah Islam di zaman Rasulullah saw. Islam merupakan hal yang asing, sedangkan propaganda jahiliyah terus berjalan dengan leluasa. Para pendukung da’wah ditindas, dikotak-kotakkan, dikepung dari segala penjuru untuk dihancurkan.
Dulu musuh Islam adalah kaum Majusi di sebelah timur dan kerajaan Romawi di sebelah barat. Maka, musuh-musuh Islam hari ini adalah golongan Komunis di timur, dan golongan Salibiah, Kristen dan Zionisme dari negara Barat serta kalangan kaum muslimin yang sekuler yang telah diracuni hati dan pikiran mereka oleh ideologi jahiliyah modern.
Sebelum terjun lebih lanjut dalam medan da’wah yang berat, maka seorang da’i terlebih dahulu haruslah mengenal cara dan tanda-tanda da’wah yang khas dan istimewa. Hal ini penting dilakukan untuk menyatukan pemahaman seputar da’wah, agar tidak terjebak dalam bermacam-macam cara da’wah yang saling bertentangan. Para da’i, khususnya generasi muda haruslah mengetahui jalan atau cara da’wah yang benar, kemudian memikul tugas dan amanah ini agar para pendukung da’wah berhimpun menjadi satu dan berjalan bersama ke arah satu tujuan. Hendaklah kekuatan dan usaha disesuaikan dan barisan diatur dengan rapi sehingga pertolongan Allah akan senantiasa bersamanya.
Tahapan Da’wah
Da’wah Islamiyah dalam tahap seruan secara internasional merupakan tahap yang sangat penting, kritis dan penuh liku-liku. Ini merupakan tahap kebangkitan setelah jatuh, tahap kesadaran setelah terlena dan lalai, bahkan merupakan satu tahap pembentukan dan penancapan dasar yang teguh dan kokoh untuk tegaknya Daulah Islamiyah yang bersifat internasional.
Terdapat perbedaan kewajiban bagi seorang muslim sekarang ini dengan seorang muslim yang hidup pada masa Daulah Islamiyah tegak berdiri. Pada tahap pembentukan dan pembinaan serta peletakan dasar-dasar daulah jelas jauh lebih sulit dan sukar, memerlukan iman yang mendalam, kesabaran dan kerapian, teliti dan cermat, serta usaha yang berkesinambungan dan tidak mengenal lelah. Hal ini pun menjadi berat karena sedikitnya mu’min yang aktif berjuang di jalan ini dan senjata yang dimiliki hanyalah berupa iman, sedangkan musuh yang dihadapi adalah kebathilan yang kuat dan berkuasa. Dalam hal ini Imam Hasan al-Banna mengatakan: “Sesungguhnya pembentukan umat, pendidikan bangsa, mewujudkan cita-cita dan mendukung sikap (pegangan) hidup memerlukan suatu umat yang bersedia tampil atau sekelompok orang yang menyeru ke arah itu. Inilah yang sekurang-kurangnya memerlukan kekuatan jiwa yang di dalamnya terhimpun kemauan yang gigih dan tidak mengenal lelah, kesetiaan teguh yang tidak dicampuri kepura-puraan dan khianat, pengorbanan banyak yang tidak terhalang oleh perasaan tamak dan loba serta kebakhilan, dan mengetahui secara pasti akan dasar kehidupannya, mengimani dan menghargainya dengan benar-benar. Sifat-sifat di atas dapat memelihara kita dari terjerumus pada kesalahan-kesalahan dan penyelewengan pembentukan serta tawar-menawar atau apologetic dalam persoalan asasi, dan tidak terpedaya dengan yang lain.”1
Setiap da’wah hendaklah melalui tiga tahap (marhalah), yaitu:
1.  Tahap penerangan (ta’rif) atau tahap propaganda ialah memperkenalkan, menggambarkan ide (fikrah) dan menyampaikannya kepada khalayak ramai dan setiap lapisan masyarakat.
2.  Tahap pembinaan dan pembentukan (takwin), yakni tahap pembentukan, memilih pendukung, menyiapkan pasukan, mujahid, dan mujahid da’wah serta mendidiknya.
3.  Tahap pelaksanaan (tanfidz), yaitu tahap beramal, berusaha dan bergerak mencapai tujuan.
Ketiga tahapan ini selalu bergandengan dan harus disesuaikan satu sama lainnya, karena kekuatan dan kesatuan da’wah bergantung pada kekompakan seluruh tahap tersebut. Jadi, para pendukung da’wah dalam melancarkan da’wahnya haruslah memilih dan membentuk anggota da’wah, dan dalam waktu yang sama dia bergerak melaksanakan apa yang dapat dilaksanakan.
Tahapan ini tidak akan terwujud dengan sempurna, kecuali melalui susunan yang tertib. Sebab suatu pembentukan tidak akan berjalan secara sempurna, tanpa lebih dahulu melalui tahap pengenalan dan pemahaman yang baik dan benar. Tahap pelaksanaan pun tidak akan lengkap tanpa melalui proses pembentukan dan pembinaan dasar pendidikan yang sempurna.
Pengenalan (At-Ta’rif) Da’wah
Tahap pengenalan ini sangat mendasar, sebab merupakan langkah awal dalam perjalanan da’wah. Setiap kesalahan atau penyimpangan yang terjadi dalam peringkat pengenalan dan pemahaman ini akan membawa akibat buruk dan menjadikan perjalanan da’wah terpeleset jauh dari garis edarnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am: 153
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa”
Untuk memastikan umat Islam selalu berada di jalan Rasulullah, kita harus memahami Islam kembali dengan pemahaman yang benar, harus kembali memahami Al-Qur’an, Al-hadits dan Sirah angkatan muslim pertama yang shalih, dengan menjauhi segala kesalahan dan penyelewengan atau penyimpangan.
Tahap ini merupakan langkah pertama dalam suatu perjalan da’wah. Kesuksesan dan keselamatan tahap ini akan mempengaruhi tahap-tahap berikutnya. Terdapat beberapa persoalan yang berkaitan dengan da’wah dan da’i, yakni:
a.       Kemurnian da’wah
Kemurnian da’wah sangat penting dalam menyampaikannya kepada manusia. Sepanjang sejarah, musuh-musuh Islam telah berusaha keras dan terus-menerus memasukkan berbagai ide dan ajaran serta pemikiran sesat ke dalam Islam. Mereka melakukannya dengan tujuan untuk menyesatkan dan mengosongkan ruh dan semangat Islam dari intinya.
Oleh karena itu, untuk memahami Islam dengan pemahaman yang murni dan benar, umat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an yang senantiasa dipelihara Allah, sunnah Rasulullah yang telah dikumpulkan dan disaring oleh imam-imam yang mulia. Kita harus kembali mengikuti pemahaman yang benar dan selamat dari Salafiyyin yang hidup pada masa nabi Muhammad saw. dan para Khulafaurrasyidin.
Jika realitas kaum muslimin sekarang ini telah jauh melenceng dari garis panduan Islam, telah jauh dari perundangan dan syari’at Islam, maka seharusnya para da’i melipatgandakan usaha dan kesungguhannya untuk menarik kembali kaum muslimin pada jalan yang benar, membangkitkan kembali dan membantu mereka dalam memahami Islam, bukan mengkafirkannya.
b.      Totalitas da’wah
Ketika menyampaikan da’wah dan peringatan, kita harus mengemukakan keuniversalan Islam dengan lengkap, utuh, total dan menyeluruh tanpa memisah-misahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya, atau menghapuskan satu bagian dari keseluruhannya, sebab Islam adalah penutup segala agama.
Islam sendiri adalah agama yang istimewa, universal, lengkap, sempurna dan mencakup seluruh persoalan hidup manusia duniawi dan ukhrawi dalam keselarasan dan keharmonisan yang unik.
Kehidupan manusia sendiri melambangkan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Islam dating sebagai satu kesatuan yang total, tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Islam harus dikemukakan secara total, lengkap dan utuh, tanpa dipisah-pisahkan menjadi beberapa bagian yang berserakan di sana-sini. Dan Islam harus dilaksanakan sepenuhnya, tidak dapat dilaksanakan secara parsial, terutama dilaksanakan sebagian dan ditinggalkan sebagian lainnya.
c.       Da’i dan uslub da’wah
Untuk mewujudkan cita-cita dalam memperkenalkan dan mengembangkan da’wah, seorang da’i harus memiliki sifat-sifat asasi dan ia harus berpegang pada uslub atau cara yang benar dan baik dalam melaksanakan da’wahnya.
Di antara sifat utama dan asasi bagi seorang da’i ialah harus menjadi contoh, teladan dan model yang baik bagi Islam yang dida’wahkannya. Ia mengikuti sunnah Rasulullah saw., menjauhi syubhat dan yang meragukan, menjauhi yang haram, senantiasa mengingat Allah dalam persoalan kecil dan besar.
Salah satu faktor terpenting dalam da’wah adalah keihklasan dan kebulatan tekad seorang da’i semata-mata karena Allah dan da’wah ilallah, agar da’wah yang dibawanya dapat berhasil menembus dan menarik hati orang-orang yang diseru (mad’u), dan mereka dengan senang hati menyambut seruan tersebut. Seorang da’i berbicara untuk da’wah, bergerak untuk da’wah dan berjalan karena da’wah.
Seorang muslim yang bergerak di bidang da’wah harus mempunyai bacaan luas, mengikuti segala macam peristiwa dan pergolakan yang terjadi, mengikuti perkembangan kondisi dan situasi, dan mengetahui berbagai aliran pemikiran dan, dengan uslub dan cara yang baik, menarik dan menawan hati manusia, sehingga orang semakin mendekatinya. Dia mampu menerangkan Islam dengan jelas dan mudah dipahami, serta tidak menimbulkan kekusutan, mampu memperbaiki kondisi dan situasi dengan memberikan solusi, bukan memperkeruh atau mempertajam suatu permasalahan.
Allah berfirman:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125).
Seorang da’i Islam harus memahami tingkat dan kedudukan mad’u dan berbicara dengan mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya, karena dengan itu akan memudahkan mereka untuk menyambut apa yang diserukannya dan mereka tidak bosan mendengar ucapan da’i tersebut.
Dan yang paling penting, seorang da’i dalam melancarkan da’wahnya harus terlebih dahulu menekankan masalah aqidah sebelum membicarakan masalah furu’iyah atau kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakannya. Aqidah Islamiyah merupakan asas pembentukan pribadi muslim, dan inilah yang mendorong penganutnya bangkit dan mendukung seluruh konsekuensi da’wah, baik yang umum maupun yang khusus dengan segala macam potensi, kekuatan dan tekad penuh, rela serta ikhlas.
Sebelum menuju tahap pembentukan dan pembinaan (takwin), perlu diamati sejenak segi-segi kesiapan psikologis dan emosi yang ada, agar sasaran yang dikehendaki dalam tahap pembentukan dan pembinaan serta penyiapan da’i dapat terwujud di alam nyata atau dapat direalisasikan di muka bumi ini.
Tugas, tanggung jawab dan besarnya cita-cita yang akan dibangun membuat kita selalu memperhitungkan kepentingan dalam mempersiapkan individu-individu muslim atau seberapa banyak pendukung da’wah yang ikhlas dan pantas untuk memikul amanah serta melaksanakannya secara sempurna, terutama setelah kita tahu bahwa membentuk kader lebih penting dan lebih sulit dari pada menbangun pabrik.
Pembentukan dan Pembinaan (Takwin)
Tahap penerangan dan propaganda atau tahap pengenalan ide, jika tidak diiringi dengan tahap pembentukan dan pembinaan (takwin) atau pemilihan pendukung dan pembela seperti golongan Anshar dan Hawariyun, dan mempersiapkan pasukan atau laskar serta mengatur taktik barisan dari kalangan orang-orang yang diseru (mad’u), kemungkinan akan menjadikan segala usaha yang telah dikorbankan pada tahap penerangan dan pengenalan ide da’wah akan menjadi sia-sia, bahkan akan hilang tanpa bekas.
Kesadaran rohani yang telah muncul dalam tahap penerangan dan pengenalan (ta’rif) tidak boleh dibiarkan musnah dan padam, tetapi harus dipelihara dan diarahkan ke dalam jiwa agar bergerak dan berusaha membuat perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan yang sejati dalam diri sendiri. Medan pertama untuk pembentukan dan pembinaan serta perubahan ini dimulai dalam diri sendiri.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’ad: 11).
Perubahan ini harus dimulai dari diri pribadi yang telah disirami dengan aqidah tauhid, mengesakan dan merasakan manisnya iman serta dapat diaktualisasikan dalam seluruh anggota tubuhnya dan dalam seluruh aspek kehidupannya.
Individu Muslim yang Dikehendaki
Umat Islam dewasa ini jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya sangat rendah dibanding dengan kualitas umat Islam generasi pertama di zaman Rasulullah saw. Masyarakat kita pada saat sekarang ini tengah mengalami masa yang sangat rumit menyangkut aspek kehidupan yang paling dalam, yaitu transformasi nilai, budaya dan perilaku. Salah satu penyebabnya adalah proses globalisasi yang menimbulkan pergesekan budaya antara Islam dan nilai-nilai lainnya. Situasi demikian terjadi di saat kondisi umat Islam yang belum terlalu siap3.
Dalam sudut pandang kultural, kesiapan yang diharapkan dalam rangka menghadapi globalisasi adalah umat harus mengetahui dengan baik basis identitasnya dan mengetahui dengan baik elemen-elemen yang membentuk kepribadian kolektifnya sebagai umat. Sehingga jika memiliki kekuatan dan jati diri, dengan sendirinya akan menghadirkan imunitas yang kuat ketika bergaul dan berinteraksi dengan budaya-budaya lain.
Masalahnya umat Islam sekarang ini tidak memiliki imunitas itu. Hal ini disebabkan tidak adanya pemahaman yang utuh tentang ajaran Islam sebagai basis identitas diri kita. Imunitas itu sendiri adalah umat Islam dengan dasar identitasnya (Islam red.) dapat memilah mana yang harus diambil dan hal apa yang akan diberikan pada umat lain.
Dengan memiliki imunitas yang kuat, maka kita akan berada dalm posisi yang seimbang. Di saat kita menerima, kita mengetahui apa yang kita terima dan di saat yang sama, kita juga mengetahui apa yang kita berikan. Imunitas seperti itu hanya bisa terjadi kalau umat memahami dengan betul ajaran Islam sebagai basis. Akan tetapi, saat ini umat terbelah kepribadiannya sehingga tidak memiliki jati diri.
Ada beberapa hal yang menyebabkan umat kehilangan jati diri, yaitu:
-          Umat Islam jauh dari agamanya sendiri. Islam yang dianut oleh mayoritas adalah Islam warisan, bukan Islam yang merupakan pilihan hidup. Sehingga tidak banyak berpengaruh dalam membentuk dan mewarnai kehidupan.
-          Para ulama yang ada dalam tubuh umat belum mampu menjalankan fungsinya secara optimal. Bahkan, tampak para ulama kita tidak berdaya memimpin umat ini. Dampaknya, umat Islam dalam menyikapi masalah politik, ekonomi misalnya, tidak lagi dipengaruhi oleh ulama. Akan tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh media massa. Ini berarti, ulama sudah tidak lagi memimpin umatnya.
-          Suksesnya kaum imperialis dalam mengangkat para pemimpin negeri-negeri Islam yang telah terjangkiti sekulerisme. Realitas membuktikan, hamper rata-rata negeri Islam dipimpin oleh anak bangsanya yang sekuler. Sekuler yang tidak hanya jauh dari agama, tapi juga memusuhi agama.
-          Adanya usaha-usaha sistematis yang dilakukan negara-negara besar untuk mendominasi seluruh negara Islam dan menyebarkan nilai-nilai kehidupan mereka ke dalam kehidupan umat Islam.
Karena pengaruh dan tampilan serta dominasi mereka atas infrastruktur kehidupan bermasyarakat, seakan-akan itu menjadi trend dan budaya yang bagus.
Jika dipilah berdasarkan tingkat terjangkitnya budaya Barat (hedonisme red.), maka umat Islam terbagi menjadi beberapa golongan. Ada golongan yang masih dekat dengan Islam, ada pula yang sudah parah terjangkit budaya Barat.
Untuk menyembuhkan atau mengubahnya cara yang paling bagus adalah memulai dari orang yang setengah sehat yang memiliki peluang sembuh lebih besar dalam waktu yang lebih singkat. Kita mengambil segmen umat yang tidak terlalu terkontaminasi dengan budaya Barat, fitrahnya masih jernih, akalnya masih sehat, kesadaran beragamanya masih tinggi.
Kita mulai dengan individu, dimana konsep yang paling baik dalam perbaikan individu adalah bekerja dengan meringkas waktu. Kalau ingin memperbaiki umat dengan kembali kepada perbaikan individu, maka kita harus melihat bahwa individu yang akan kita perbaiki itu adalah individu yang mempunyai dua kualitas.
Kualitas pertama adalah bahwa individu itu mempunyai fitrah untuk berubah dan kembali kepada Islam, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Dimana kadar kontaminasi budaya Barat di dalam dirinya sedikit dan punya harapan untuk sembuh, kembali kepada Islam.
Sedangkan kualitas kedua dalah, hendaknya orang itu juga mempunyai bakat dan potensi dalam dirinya untuk menyembuhkan orang lain atau untuk melakukan perubahan. Dengan demikian, yang pertama adala kesiapan untuk berubah, dan yang kedua kemampuan untuk mengubah. Sehingga, nantinya setiap orang yang berubah merupakan agen perubahan selanjutnya.
Seorang mujahid yang berjuang dan berjihad, atau seorang kader dakwah harus memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap agamanya, pemahamannya yang menyeluruh, lengkap dan orisinal terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul. Ia harus memiliki keikhlasan yang besar untuk menjadi laskar da’wah, aqidah dan ideologi, bukan laskar yang hanya mengejar keuntungan dan tujuan materi semata-mata dan bukan pula angkatan yang mengejar kepentingan diri sendiri.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari diri orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111).

Maraji’:
1 Masyhur, Syaikh Mushthafa, 2005,  FIQH DAKWAH Jilid 1, Al-I’tishom Cahaya Umat, Jakarta.
2 Yakan, Fathi, 2006, Membentuk Fikrah dan Visi Gerakan Islam, Robbani Press, Jakarta.
3 Matta, M. Anis, 2006, Menuju Cahaya Recik-Recik Tarbiyah & Dakwah, Fitrah Rabbani, Jakarta.

Oktober 22, 2010

Salamatush Shadr (LAPANG DADA)


               Kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak delapan kali dalam  Al-Quran. Kata ini pada mulanya berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada. Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.
          Apabila kamu memaafkan,dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (at-Thaghabun: 14).
          Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (an-Nur: 22) .
          Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (al-Maidah: l3).
          Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah:109).
               Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani  menyatakan bahwa  al-shafh lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan ini dapat dipahami dengan sebuah analogi. Seperti dikemukakan terdahulu dari kata  al-shafh lahirlah shafhat yang berarti halaman.  Jika kita memiliki selembar kertas yang ditulisi suatu kesalahan dan kesalahan itu ditulis dengan pensil, maka kita akan menngunakan penghapus karet untuk menghapusnya. Demikianlah halnya ketika Anda melakukan 'afw (memberi maaf).  Seandainya kesalahan itu ditulis dengan tinta, tentu kita akan menghapusnya dengan tip-ex agar tidak terlihat lagi. Akan tetapi, walaupun kita telah berusaha menghapus kesalahan tersebut, tentunya lembaran tersebut tidak lagi sama sepenuhnya dengan lembaran baru bahkan lembaran itu mungkin menjadi lebih lusuh dari sebelumnya. Di sinilah letak perbedaan antara al-shafh yang mengandung arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut seseorang untuk membuka lembaran baru sehingga sedikit pun hubungan tidak ternodai, tidak kusut, dan tidak seperti lembaran yang telah dihapus kesalahannya. Mushafahat (jabat tangan) adalah lambang kesediaan seseorang untuk membuka lembaran baru, dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama. Sebab, walaupun kesalahan telah dihapus, terkadang masih saja ada kekusutan masalah.  
               Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena tidak mungkin membuka lembaran baru dengan membiarkan lembar yang telah ada  kesalahannya  tanpa  terhapus.  Itu sebabnya ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi tidak didahului oleh perintah memberi maaf, dirangkaikan dengan jamil yang berarti indah. Selain itu, al-shafh juga dirangkaikan dengan perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak.
          Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik (al-Hijr:85)
          Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan salam/kedamaian (az-Zukhruf:84).
Lapang dada dalam Amal Jama’i
               Salamatush shadr adalah kita dapat berlapang dada menerima kesalahan maupun suatu hal yang tidak kita setujui. Oleh karena itu, sikap ini saat diperlukan dalam aktivitas beramal jama’i karena tidak menutup kemungkinan adanya keputusan yang tidak kita sukai tapi merupakan keputusan bersama (jama’ah). Akan tetapi, dalam hal ini tidak cukup sampai dengan berlapang dada dalam menerima keputusan. Kita juga harus bisa berlapang dada dalam menjalankan keputusan tersebut demi terlaksananya kerja-kerja jama’ah dan tercapainya tujuan bersama.
               Jika salamatush shadr memiliki tingkatan lebih tinggi dari memaafkan, maka setelahnya masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi yakni “Itsar”. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai.

Wahai orang yang berfikir tentang ketentraman dan kedamaian bumi ini....
Pahamilah masalah ini dengan cermat...
Kembalilah kepada Islam...
Ya Allah, saksikanlah...
Sesungguhnya aku telah menyampaikan... (Hasan Al-Banna)

Maraji’
Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Qur’an.
Catatan pribadi

Eksistensi Tauhid dalam Kehidupan

Tauhid secara bahasa adalah menjadikan sesuatu itu satu.....

Tauhidullah adalah mentauhidkan Allah dalam Rububiyah, Uluhiyah dan Asma' wa sifat.
(Untuk lebih jelasnya silahkan cek Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah)

Antara tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah memiliki kaitan yang erat. Tauhid Uluhiyah merupakan konsekuensi dari tauhid Rububiyah. Sedangkan, tauhid Uluhiyah yang benar memiliki syarat yakni pemahaman akan ibadah.
Menurut Ibnu Taimiyyah, ibadah adalah setiap perbuatan yang dicintai oleh Allah yang terlihat atau pun tidak baik berupa perbuatan, perkataan dan apa yang ada di hati.

Adapun tauhid Asma' wa sifat adalah tidak menyerupakan, mengganti, mentakwilkan nama dan sifat Allah dengan sesuatu yang lain tanpa adanya dalil yang jelas. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman;
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ............
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha Mendengar, Maha Melihat" (QS. Asy-Syuura: 11).

Jadi, ikhwahfillah...sekali melakukan penyimpangan dalam tauhid ini, maka tertolaklah atau sia-sialah semua amalan ibadah kita.

Sering kita temui dan mungkin pernah kita lakukan, bersumpah atas nama selain Allah. Maka....mari kita bersama-sama renungkan:
Bersumpah demi Allah tapi berbohong, maka hal itu adalah sebuah dosa besar (kita berdosa karena berbohong dan bersumpah palsu), sedangkan bersumpah demi "sesuatu" (selain Allah red.) tapi jujur, maka itu adalah musyrik.
Marilah kita belajar dari nabi Ibrahim Khaliilullah yang tetap teguh memegang ketauhidannya kepada Allah walaupun ia harus memusuhi orang tuanya sendiri, walaupun ia kemudian dimusuhi kaumnya dan bahkan dibakar dalam api yang menyala-nyala dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiyaa: 58-70.

Lalu, apa imbas ketauhidan itu sendiri bagi diri kita dan lainnya??

Saat kita menegakkan tauhid itu pada pribadi-pribadi kita, maka akan menjadikan tegaknya masyarakat yang bertauhid. Lalu, jika sudah demikian maka akan lahir masyarakat yang merdeka seperti halnya negara Madinah pada zaman Rasulullah....
Beberapa pengaruh tauhid dalam kehidupan kita:
  • merdeka secara hakiki : pada saat suatu masyarakat memiliki keyakinan yang kuat atau prinsip, maka ia tak akan mengekor apa yang dilakukan orang atau kelompok lain. Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfal: 60-64.

  • datangnya keamanan :
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-An'am 82).

Pada saat ayat ini turun, timbul keresahan di kalangan sahabat. Karena kedzaliman terdapat di semua hal, ada kedzaliman kepada Allah, diri sendiri (dengan maksiat), orang lain, dll. Sehingga jika Allah memberikan pujian kepada kaum mu’minin yang tidak pernah dzalim, maka hal ini sangat berat dirasakan oleh para sahabat. Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, siapa orang yang tidak pernah berbuat dzalim ?," beliau menjawab, "Sesungguhnya makna dzalim disini tidak seperti yang kalian kira, akan tetapi yang dimaksud adalah kesyirikan."

Dalam surat Luqman pun disebutkan nasihat Luqman kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirk kepada Allah, karena kesyirikan merupakan kedzaliman yang sangat besar.”

Sehingga makna ayat di atas yaitu kaum mu’minin yang tidak menodai keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka akan mendapatkan keamanan dan petunjuk. Terdapat dua macam keamanan:
Keamanan secara mutlak = bagi orang yang sempurna keimanannya tidak akan disiksa sama sekali.
Keamanan secara umum = bagi orang yang menodai keimanannya dengan perbuatan maksiat, maka dia terdapat kemungkinan untuk disiksa terlebih dahulu.
Seperti halnya penduduk Makkah yang merasa tidak aman atas penyerangan pasukan Abrahah, hingga akhirnya Allah mengirim burung-burung untuk menghabisi bala tentara tersebut. kisah ini diabadikan dengan indahnya dalam Al-Qur'an Surat Al-Fiil. Pada akhirnya Makkah menjadi kota yang aman dengan penduduk yang aman dan tentram setelah Rasulullah diutus membawa risalah Islam kepada mereka (suku Quraisy red.)

  • adanya keberkahan dari Allah :
"Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. di antara mereka ada golongan yang pertengahan. dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka" (QS. Al-Maidah 66).

pada saat kita menjalankan tauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan pernah mengingkari janjiNya.  Jadi, di sini tauhid adalah prioritas, tak bisa ditawar!!!!

  • melahirkan masyarakat berakhlak mulia: kembali mari kita mengingat hadits Rasulullah SAW
"tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari-Muslim)
  • pada saat individu menjalankan tauhid, maka akan melahirkan ta'liful qulub (keterikatan hati) antara mereka : masyarakat muslim ibarat bangunan yang kokoh yang terikat oleh tauhid. Dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfal Allah berfirman:
"dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana" (Al-Anfal: 63).
  • ummat terbaik : manusia diperbaiki dengan sistem. Bagaimana manusia akan bisa diperbaiki jika ia tidak siap dengan sistem tersebut. Nah, apakah sistem yang dimaksud??? Tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur'an.
Jadi...ikhwahfillah, sudahkah kita menyiapkan diri untuk menjadi pribadi yang siap masuk dalam sistem tersebut??? sebuah sistem yang telah terbukti dan teruji di zaman terbaik yang pernah ada....

wallahu 'alam bis shawab
(Kajian Rutin Kamis Sore HIMMPAS UGM edisi 3 Desember 2009)

Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah

Tauhid Rububiyah adalah meyakini bahwa Allah adalah sang Khalik, adalah Tuhan yang patut untuk disembah.
Benarnya seseorang dalam tauhid rububiyah (mengimani Allah) tidak menjamin ia menjadi seorang muslim.
Seperti halnya iblis yang mengimani Allah tapi menjadi makhluk yang dikutuk karena tidak mau bersujud pada Adam a.s.
Kuatnya tauhid Rububiyah akan melahirkan tauhid Uluhiyah.

Tauhid Uluhiyah adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah SWT. Tauhid inilah yang paling banyak penyimpangan.
Mengapa demikian??? Karena memurnikan ibadah itu susah jika tidak memahami makna ibadah tersebut.
ibadah... "adalah suatu ungkapan yang mengandung setiap perkataan dan perbuatan yang terlihat ataupun tidak yang dicintai dan diridhai Allah"
Jadi, ibadah mengandung 3 unsur yakni perbuatan, perkataan dan perasaan. Saat ke-3 unsur tersebut dilandasi bukan untuk dan karena Allah, maka itulah yang dinamakan kemusyrikan. Padahal, Allah menginginkan kemurnian ibadah kepadaNya 100%.

Beberapa kiat untuk menggapai tauhid Uluhiyah:
1. harus memahami dan memiliki ilmu tentang ibadah
Ibadah tanpa ilmu akan melahirkan 2 keburukan yang saling berkebalikan, yaitu berlebih-lebihan dalam ibadah dan meremehkan ibadah.
2. bersegera merealisasikan ibadah
Marilah mencontoh Abu Bakar Ash-Shidiq ra. yang senantiasa bersegera melakukan kebaikan, dan hal ini haruslah dilakukan oleh seorang muslim karena meyakini bahwa hidup adalah untuk beribadah.
3. istiqamah dalam ibadah
"ibadah yang baik adalah ibadah yang berkesinambungan walaupun sedikit"
4. meragamkan ibadah
Menjalankan variasi ibadah untuk mengoptimalkan potensi.....
Keragaman ibadah dapat menjauhkan kita dari rasa jumud.

Wallahu 'alam bi shawab....

(Kajian Rutin Kamis Sore HIMMPAS UGM edisi 22 Oktober 2009)